Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Manusia Kering di Negeri Terpasung

.

Manusia Kering di Negeri Terpasung

Pengarang : Radhar Panca Dahana
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 52  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
Kita kini sedang menyaksikan satu generasi di bawah
kita, yang bukan hanya gagap dan gugup, tetapi kehilangan identitas dan
daya ekspresinya.”
Demikian seorang pengusaha sukses dari generasi puncak yang dibesarkan
Orde Baru (kelahiran tahun 1960-an), sekali bertanya kepada
rekan-rekannya segenerasi. Maka, terlihat di mata mereka (kita?) sebarisan
generasi yang seakan tak berdosa, menikmati semua keluhuran dan
kesesatan adab modern, hampir tanpa ranjau seleksi yang disediakan
agama, tradisi, hukum, dan sebagainya.Dan, realitas yang muncul di hadapan mereka adalah
lapisan-lapisan yang jamak, di mana mereka harus memilih realitas
preferensialnya, atau hidup sekaligus dalam dua-tiga lapis kenyataan.

Ekspresinya pun akan membentuk sesuatu yang berbeda, baru, bahkan tak terkira.
Jika pun belakangan muncul berbondong pengarang-pengarang muda (bahkan
remaja), sineas muda bersemangat, pelajar yang memboyong medali
internasional, atau nafsu global sebagian pemusik baru, sesungguhnya
masih belum merepresentasi dunia ”baru” yang dihayati dan hendak
diekspresikan generasi ini.Salah satunya adalah sebab yang menjadi refleksi
tulisan ini: hampir seluruh khazanah simbolik, modus pemaknaan, standar
dan indikator hidup dan kultur Kita masih didominasi oleh mereka, para
”penguasa”, yang masih nongkrongi di kursi-kursi semua lembaga dan
pranata sosial kita, notabene ”Orde Usang”.Sejumlah ukuran yang mendapat reaksi kritis akan
terlampau banyaknya standar hidup tradisional kita yang ternyata belum
”siap” dengan konsekuensi-konsekuensi demokratis, bahkan tidak fit-in
dengan pilihan-pilihan wajib adab demokrasi itu sendiri.

Mungkin tepatnya, belum ada ruang dan mekanisme
pikiran yang cukup memberi izin bagi berlakunya ide-ide terobosan, di
mana mungkin sekian standar tradisional harus tersisihkan. Malah, jika tidak semakin berat, arus besar yang
berkembang adalah permakluman apologetik, permisivitas atau pemaafan
diri yang kian jadi.Terpasung antara nafsu/kesadaran pada puluhan langkah
kemajuan dan perilaku yang tertinggal puluhan jejak di belakang,
Kondisi itulah yang membuat negeri Terpasung ini mengalami pemiskinan
simbolik karena ketidakmampuan mengadopsi simbol- simbol
kenyataan-kenyataan baru. Anggaran resmi untuk kerja budaya yang begitu dalam
dan lebar, sungguh terlalu minor ketimbang turisme sebagai partner
departementalnya. Dan cermati, penempatan
istilah budaya (yang wahai dimensinya itu) berjajar dengan seni
praktis-komersial ”film” di tingkatan direktorialnya.

Lebih penting dari penghargaan material—yang
bagaimanapun minor ketimbang penghargaan pada prestasi olahraga,
misalnya—prestasi artistik di atas sesungguhnya menciptakan semacam
kesadaran: dunia seni yang berprestasi bukan saja berhasil memosisikan
martabat negeri secara lebih baik di fora internasional, tetapi juga
signifikan—jika tidak vital—dalam proses perkembangan mental,
kesadaran, dan kedewasaan bangsa ini. Dan, apa salah, bila para pengambil kebijakan
mengakses dan mengartikulasikan ekspresi-ekspresi itu dalam wilayah
kerja dan sosial mereka masing-masing.

Ringkasan lain tentang Manusia Kering di Negeri Terpasung
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------