Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>n Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1933-2003)

n Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1933-2003)

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : I Nyoman Darma Putra
ª
 
PROF I Gusti Ngurah Bagus, salah satu intelektual Bali yang penuh semangat, tak pernah puas, dan selalu menggugat, telah dipanggil Yang Mahakuasa, Kamis, 16 Oktober 2003 sore. Selain keluarga yang ditinggalkan, duka cita juga bergema di almamaternya, Universitas Udayana, di kalangan mahasiswa program master dan doktor yang tengah dibimbingnya menulis tesis atau disertasi, serta di kalangan sarjana asing yang bergerak di bidang Balinese Studies (Kajian Bali). Selain pemikiran-pemikirannya yang radikal tentang kebudayaan, Ngurah Bagus akan dikenang atas jasanya karena berhasil untuk pertama kalinya di Indonesia membangun program studi Kajian Budaya (Cultural Studies) untuk jenjang master (1996) dan doktor (2001).Beragam ilmu yang dikuasainya membuat Ngurah Bagus menjadi intelektual yang sensitif terhadap fenomena yang berkembang, khususnya dalam kebudayaan dan masyarakat Bali. Studi Bali dalam Sentuhan Pariwisata ini dikerjakan awal tahun 1970-an bersama sarjana Amerika, Philip McKean, yang membahas gejala hippies yang berkembang di arena global dan merasuk ke Bali lewat pariwisata waktu itu.Di bidang sastra Indonesia modern yang berkembang di Bali, Ngurah Bagus-lah yang pertama kali menemukan drama berbahasa Melayu berjudul Kesetiaan Perempuan yang ditulis sastrawan Bali (anonim) tahun 1927, seperti bisa dibaca lewat kajiannya dalam buku suntingan Adrian Vickers, Being Modern in Bali, Image and Change (1996).Dalam kapasitasnya sebagai dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana (Unud) dan Kepala Balai Penelitian Bahasa (dan Sastra) sejak akhir tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an, Ngurah Bagus dengan sadar betul membina perkembangan sastra Bali modern. Kekagumannya melihat perkembangan sastra Jawa (modern) dan sastra Sunda mendorong Ngurah Bagus untuk meneliti perkembangan sastra Bali modern yang sudah berbenih sejak tahun 1910-an, namun hidup "bagai kerakap tumbuh di batu".Hasilnya, tak hanya bahasa Bali hidup terus dalam bentuk tulisan, tetapi juga khazanah sastra Bali modern kian subur dan menjadi dokumen estetik masyarakat Bali yang berisi respons mereka terhadap perubahan sosial. Tanpa sentuhan Ngurah Bagus, kehidupan sastra Bali modern pastilah jauh tenggelam dibandingkan dengan sastra Bali klasik/tradisional yang terus berkibar di era modern ini. Minat-minatnya dalam berbagai bidang ilmu dan pembinaan menjadi landasan bagi Ngurah Bagus untuk mengembangkan Kajian Budaya, program studi yang pertama tumbuh di Inggris tahun 1960-an dan populer di seluruh dunia dalam dekade terakhir ini dengan berbagai mazhabnya. Yang juga mempercepat proses Ngurah Bagus untuk mewujudkan Program Kajian Budaya di Unud adalah intensifnya dialog keilmuan Ngurah Bagus dengan sarjana luar negeri yang menunjukkan minat di bidang antropologi dan kajian budaya, seperti Mark Hobart dari School of Oriental and African Studies (SOAS) London, Carol Warren dan Adrian Vickers (Australia), serta Hildreet Geertz (Amerika).Sosok dirinya yang multidisipliner dan semangat keilmuannya yang cenderung dekonstruktif menjadi ikon khas Kajian Budaya yang dibangunnya.Bagi Ngurah Bagus, proses reformasi dan peledakan bom 12 Oktober 2002 merupakan alasan dan landasan bagi orang Bali untuk mengoreksi diri sebagai orang-orang yang kurang tertarik pada politik menjadi lebih politically active and strategic.
Diterbitkan di: 10 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.