PROF I Gusti Ngurah Bagus, salah satu intelektual Bali
yang penuh semangat, tak pernah puas, dan selalu menggugat, telah
dipanggil Yang Mahakuasa, Kamis, 16 Oktober 2003 sore. Selain keluarga yang ditinggalkan, duka cita juga
bergema di almamaternya, Universitas Udayana, di kalangan mahasiswa
program master dan doktor yang tengah dibimbingnya menulis tesis atau
disertasi, serta di kalangan sarjana asing yang bergerak di bidang
Balinese Studies (
Kajian Bali). Selain
pemikiran-pemikirannya yang radikal tentang kebudayaan, Ngurah Bagus
akan dikenang atas jasanya karena berhasil
untuk pertama kalinya di
Indonesia membangun program studi Kajian Budaya (Cultural Studies)
untuk jenjang master (1996) dan doktor (2001).Beragam ilmu yang dikuasainya membuat Ngurah Bagus
menjadi intelektual yang sensitif terhadap fenomena yang berkembang,
khususnya
dalam kebudayaan dan masyarakat Bali. Studi Bali dalam Sentuhan Pariwisata ini dikerjakan
awal tahun 1970-an bersama sarjana Amerika, Philip McKean, yang
membahas gejala hippies yang berkembang di arena global dan merasuk ke
Bali lewat pariwisata waktu itu.Di bidang
sastra Indonesia
modern yang berkembang di
Bali, Ngurah Bagus-lah yang pertama kali menemukan drama berbahasa
Melayu berjudul Kesetiaan Perempuan yang ditulis sastrawan Bali
(anonim) tahun 1927, seperti bisa dibaca lewat kajiannya dalam buku
suntingan Adrian Vickers, Being Modern in Bali, Image and Change (1996).Dalam kapasitasnya sebagai dosen Fakultas Sastra
Universitas Udayana (Unud) dan Kepala Balai Penelitian Bahasa (dan
Sastra) sejak akhir tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an,
Ngurah Bagus dengan sadar betul membina perkembangan sastra Bali modern.
Kekagumannya melihat perkembangan sastra Jawa (modern) dan sastra Sunda
mendorong Ngurah Bagus untuk meneliti perkembangan sastra Bali modern
yang sudah berbenih sejak tahun 1910-an, namun hidup "bagai kerakap
tumbuh di batu".Hasilnya, tak hanya bahasa Bali hidup terus dalam
bentuk tulisan, tetapi juga khazanah sastra Bali modern kian subur dan
menjadi dokumen estetik masyarakat Bali yang berisi respons mereka
terhadap perubahan sosial. Tanpa sentuhan Ngurah Bagus, kehidupan sastra Bali
modern pastilah jauh tenggelam dibandingkan dengan sastra Bali
klasik/tradisional yang terus berkibar di era modern ini.
Minat-minatnya dalam berbagai bidang ilmu dan pembinaan menjadi
landasan bagi Ngurah Bagus untuk mengembangkan Kajian Budaya, program
studi yang pertama tumbuh di Inggris tahun 1960-an dan populer di
seluruh dunia dalam dekade terakhir ini dengan berbagai mazhabnya.
Yang juga mempercepat proses Ngurah Bagus untuk mewujudkan Program
Kajian Budaya di Unud adalah intensifnya dialog keilmuan Ngurah Bagus
dengan sarjana luar negeri yang menunjukkan minat di bidang antropologi
dan kajian budaya, seperti Mark Hobart dari School of Oriental and
African Studies (SOAS) London, Carol Warren dan Adrian Vickers
(Australia), serta Hildreet Geertz (Amerika).Sosok dirinya yang multidisipliner dan semangat
keilmuannya yang cenderung dekonstruktif menjadi ikon khas Kajian
Budaya yang dibangunnya.Bagi Ngurah Bagus, proses reformasi dan peledakan bom
12 Oktober 2002 merupakan alasan dan landasan bagi orang Bali untuk
mengoreksi diri sebagai orang-orang yang kurang tertarik pada politik
menjadi lebih politically active and strategic.
Ringkasan lain tentang n Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1933-2003)