Tari Manusia
dalam Ruang Pengap
BAGAIMANA rasanya terkurung di sebuah ruang sempit dan pengap?
Itulah yang terbayang ketika menyaksikan sebuah
tarian yang sekilas
tampak sangat bersahaja, namun mengandung godaan perenungan yang
panjang, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 27 Agustus-27 September 2001.
Itulah sebuah karya
Tari bermutu yang menawarkan masalah tubuh dan
ruang yang serba terbatas, dibawakan
oleh penari yang mengenal betul
kemampuannya di dalam mengendalikan irama dan ruang. Tarian tersebut, berjudul Solo, hanya menampilkan satu orang penari, seorang perempuan. Sepanjang setengah waktu pertunjukan, ia berkutat di antara sebuah kursi dan sebuah meja yang berdekatan.Koreografi untuk penari tunggal sepanjang 25 menit yang dibawakan oleh
penata tarinya sendiri, Henrietta Horn, itu di samping membutuhkan
penari bagus, tarian ini bertumpu pada musik dan cahaya dengan
ketepatan yang tinggi.
Mula-mula seorang duduk di kursi menggoyang kedua tangan yang menggenggam sejenis perkusi. Suara srekk.. srekkk.. srekkk beruntun membentuk irama, diikuti penari lain secara berturutan.
Akhirnya
seluruh panggung bergetar oleh pengaruh bunyi bersama, serta
gerak berturutan maupun serempak baik hanya kaki atau lengan maupun
seluruh tubuh yang ditimbulkannya.Kadang sebuah adegan diisi dengan hanya ulah satu
pasangan, kadang disusul yang lain, bahkan bisa berpasang-pasang di
seluruh panggung.Sebagian dari adegan-adegan tanpa suara musik, namun
justru gerak, susunan kelompok, dan lampu, memproduksi iramanya sendiri
yang kuat. Menilik dari dua karyanya yang ditampilkan tampak ia
lebih condong ke tari daripada teater-tari, sebuah gaya seni
pertunjukan yang populer di negeri tersebut.
Ringkasan lain tentang Tari Manusia dalam Ruang Pengap