Sejak ia menjadi penghuni kuburan pada usia belasan
tahun sampai Jumat (4/4) malam ketika ia mementaskan karya-karya
retrospeksi di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jemek tetap seseorang
pengelana yang berjalan dari sunyi ke sunyi.
Meski ia melumuri sekujur tubuhnya dengan tinta warna emas pada bagian
akhir pentas, ia tetaplah Jemek yang dulu "bajingan" dan tak malu
menjalani laku menderita. (Mungkin, warna emas itu dihubung-hubungkan dengan usianya 50 tahun itu).
Cobalah tengok pada karyanya yang berjudul Dokter Bedah (1981) yang
dimainkan oleh Broto dan Ashita, bagaimana Jemek dengan lugas
mengkritik
perilaku ceroboh
seorang dokter yang meninggalkan berbagai
benda di dalam perut pasiennya.Pementasan Jemek yang biasa dilakukan dengan penuh
kebersahajaan, kali ini tampil sebagai keutuhan yang bernas hingga
ide-idenya tak hanya menjadi bahan lelucon.
Jauh dari itu, Jemek Supardi dan kawan-kawan dari Yogyakarta, mengajak
kita untuk menyadari betapa tidak mudahnya menjadi manusia (dalam
Jakarta Jakarta), betapa kemashyuran bisa membuat seorang pelukis
berfantasi tentang berbagai hal yang menyenangkan (dalam Halusinasi
Seorang Pelukis), dan betapa absurdnya perilaku-perilaku yang
mengagungkan profesi (coba simak Tukang Cukur dan Dokter Bedah).Karena pada suatu waktu, pastilah lelaki kerempeng ini bakal mengaku bahwa ia juga seorang penjudi yang "kecanduan".
Bagaimana seorang penjudi bisa mengajarkan tentang kebenaran moral?
Bagaimana seorang gila (seperti pada banyak sastrawan) bisa memberikan
kejernihan pikiran? Pertanyaan ini, bisa dijawab dengan pertanyaan
lagi, apakah kesenian harus diposisikan sebagai sumber dari segala
kebenaran? Wah, lebih baik mengucapkan selamat ulang tahun ke-50 saja buat Jemek, ia yang berkesenian tanpa pretensi....