Sejak setahun lalu Pasar Gede Hardjonagoro di Solo
telah
menjadi pasar
tradisional pertama yang menjadi "panggung"
bagi
pentas-pentas seni dan budaya. Beragam
komunitas sejak dari Republik Aeng-Aeng, siswa sekolah menengah
kejuruan, Pasamuan Pasar
Tradisional Surakarta atau Papatsuta,
komunitas seni dan masyarakat kampus menggelar acara seni dan budaya di
pasar ini, dari menyanyi, fashion show, hingga teater rakyat.juga berhenti sejenak, berorasi membela perekomian rakyat dari kapitalisme-yang disimbolkan dengan "pasar".
Tidak mau ketinggalan, sebuah stasiun televisi lokal di Solo juga
menayangkan acara diskusi nyantai di malam hari bertajuk Jagongan Pasar
Gede, meski shooting-nya berlangsung di studio.
gga, tidak heran bila sawah, ladang, serta pasar telah menjadi ruang hidup dalam kultur penduduk agraris ini.
Sebelum teknologi informasi demikian canggih, dahulu pasar selain
menjadi tempat transaksi jual beli juga menjadi ruang berbagi, mulai
dari informasi, keluh kesah, hingga ngudoroso soal-soal yang berat
semacam skandal politik di pusat pemerintahan lokal.Pasar modern yang jeli membaca peluang memanfaatkan
ketiadaan (baca: berkurangnya) ruang-ruang publik dengan mengonstruksi
dirinya
sebagai pusat belanja yang one stop service. Bila pada awal kehadirannya mal ditakuti karena soal
harga yang murah, atau fasilitas yang cukup baik semisal eskalator,
lift, ruang ber-AC, atau musik di sepanjang waktu, kekhawatiran akan
mal pada prospek pasar tradisional yang perlu menjadi perhatian justru
transformasi mal dari pusat belanja menjadi pusat budaya. Kondisi ini yang harus dijawab oleh pemerintah daerah, komunitas pasar, dan warga.
Revitalisasi
Peran pasar tradisional sebagai ruang kebudayaan yang beralih di mal
menjadikan pasar tradisional semakin ditinggalkan penikmatnya. Revitalisasi pasar perlu dilakukan agar keberadaan pasar tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.Perlu diperhatikan agar setiap pasar memiliki ruang terbuka di lobi lantai dasar pasar.
Lobi lantai dasar ini bebas dari pedagang sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai "panggung" bagi kegiatan-kegiatan seni, budaya, dan intelektual
di pasar.
Pentas-pentas yang telah dilakukan juga cenderung
sebagai proyek idealis atau bertempat di pasar yang hanya diposisikan
sebagai "tempelan". Karena itu,
komunitas-komunitas pasar, kesenian, dan kampus termasuk pemerintah
kota dapat melakukan promosi pentas seni dan budaya dengan menjadikan
pasar sebagai "panggung" yang reguler.Pemerintah kota dapat merespons dengan menjadikan
pasar sebagai salah satu lokasi kegiatan dalam festival-festival budaya
yang reguler dilakukan seperti Bengawan Solo Fair, bahkan Festival
Keraton tahunan.