Perkembangan karya seni rupa kontemporer yang tidak
lagi mengacu
pada paradigma lama menganut pada estetika yang formalis,
bahwa seni harus indah dipandang sehingga karya seni lebih menekankan
makna di balik citraan ketimbang citraan
itu sendiri.
Pandangan terhadap karya seni yang bersifat kritis sehingga menyinggung
perasaan penguasa yang masih menempatkan seni sebagai hal yang
adiluhung, halus, apolitis, dan punya nilai investasi, atau percampuran
dari
semua itu.
SEORANG seniman Inggris, Damien Hirst, yang cukup dikenal di dunia,
pada bulan Oktober 2001 menghadirkan sebuah karya instalasi yang berupa
tumpukan botol dan kaleng bir yang kosong, kumpulan asbak rokok, gelas
plastik
bekas kopi dan minuman lain, bungkus permen, potongan kertas
koran dan sedotan bekas yang semuanya diletakkan
dalam keranjang sampah.Keesokan harinya penjaga kebersihan galeri yang
bernama Emmanuel Asare, yang sedang membersihkan ruangan, melihat
tumpukan kotoran bekas pesta semalam yang segera ia bersihkan. Para undangan makan bersama, berdansa, ngobrol, ada
performance secara spontan dari beberapa perupa yang hadir, ada orang
yang kekenyangan dan muntah, lampu- lampu gemerlapan seperti sebuah
diskotek, poster yang terpasang di dinding dan hiasan pesta atau elemen
estetis lainnya. Suatu kenyataan yang mengesahkan semua itu adalah kekuasaan kapitalis yang telah menciptakan dunia yang satu, yang global.
Kedua karya seni ini punya kapasitas yang berbeda, namun semua itu
memberikan bukti kekuatan kapitalis dalam dunia industri yang
mendekatkan aspirasi penciptaan karya seni pada budaya konsumerisme
yang telah mendunia.Sejak 26 Desember 2003 di gelar acara "Doa Khusus
untuk yang Mati", ada pameran seni rupa karya beberapa perupa termasuk
Tisna Sanjaya, pembacaan puisi
oleh penyair dari Bandung, serta
pertunjukan musik Harry Roesli, Kelompok Penyanyi Jalanan, dan
pertunjukan teater interaktif oleh penduduk Babakan Siliwangi yang
disutradarai oleh Aji.
Tisna memakai perahu sebagai simbol sebagai kendaraan
yang membawa doa-doa bagi orang-orang yang telah
menjadi korban budaya
kekerasan yang diciptakan oleh penguasa.
Teks-teks yang kritis dan nakal menyertai simbol yang puitis ini
sehingga bobot kritik menjadi jelas terbaca dan karya yang berukuran
besar ini diletakkan di Babakan Siliwangi, sebuah hutan kota yang
sedang menjadi masalah. Pada masa Orde Baru, rezim yang berkuasa memakai
pendekatan keamanan untuk menyingkirkan segala tindakan kritis yang
dianggap membahayakan jalannya pembangunan yang notabene membahayakan
kekuasaan. Paradigma seni dengan konteks estetika dalam seni rupa
kontemporer menjadi tidak lagi menjadi relevan untuk dibicarakan karena
penilaian dan pengambilan keputusan terhadap pembakaran karya seni
berdasarkan pada otoritas kekuasaan yang pragmatis dan mengabaikan
sikap demokratis. Sementara pembangunan tanpa mental yang dilandasi
oleh nilai-nilai kebangsaan yang berperikemanusiaan dan berkebudayaan
menciptakan banyak penindasan oleh penguasa terhadap rakyat, konflik
horizontal dan korupsi yang merajalela.
Ringkasan lain tentang Sampahsenisampahsenisampahseni. Bakar!!!