Ia bersaing dengan budaya massa (budaya populer),
anak kandung kapitalisme global itu: industri hiburan di televisi,
VCD,
film, musik pop, fashion, barang-barang elektronik, makanan cepat saji,
dugem (dunia gemerlap), gaya hidup serba praktis dan pragmatis,
hedonisme, dan lainnya. Bukan demi eksotisme, melainkan yang lebih utama: menjaga kekayaan dan keragaman nilai dan ekspresi kebudayaan bangsa.
Budaya-budaya
tradisi ini yang menjadikan Indonesia sebuah mozaik budaya yang kaya dengan keberagaman.
Alangkah menyedihkan jika sebuah bangsa tanpa identitas.
Karena itu juga, Jepang sebagai negara yang sangat modern, tetap
menjunjung tinggi kebudayaan tradisi: di sana pemain kabuki atau sumo
sangat dihormati. Sutradara Teater Garasi, Yudi
A Tajuddin, yang telah memiliki reputasi internasional itu pernah
bercerita: orang-orang Jepang yang sedang asyik makan di restoran
serentak berdiri begitu melihat pemain kabuki atau sumo masuk.
Padahal, budaya pop tidak
memberikan makna signifikan
kepada pembentukan identitas bangsa, sedangkan para pelaku seni tradisi
memberikan kontribusi nilai yang luar biasa.
Bicara seni tradisi, termasuk wayang wong Ngesti Pandowo, kita akan menemukan ironi di negeri ini.
Selama ini bangsa ini selalu mengaku sebagai bangsa yang kental dengan
nilai-nilai tradisi namun dalam praktiknya kurang menganggap penting
kebudayaan tradisi.
Negara (pemerintah) cenderung mengeksploitasi seni
dan budaya tradisi untuk pariwisata, sementara mereka tidak berpikir
bagaimana para pelakunya hidup dan menghidupi seni/budaya tradisi. Negara masih menganggap seni tradisi seperti rumput liar: dibiarkan saja toh tetap hidup.
Tahan-bating Ngesti Pandowo bisa jadi "mengejek" bangsa dan negara ini,
yang kurang memberikan dukungan dan pengayoman terhadap budaya dan seni
tradisi.
Tugas penting lainnya adalah memberikan proteksi,
dalam berbagai upaya, sehingga berbagai kelompok seni tradisi tidak
menjadi anak yatim kebudayaan yang dibiarkan bertarung sendirian
melawan raksasa budaya massa yang adidaya oleh kekuatan modal.