Puisi Perancis-Indonesia (3) : Dua Anak Gadisku - Mes Deux Filles Victor Hugo
Summary rating: 4 stars
3 Tinjauan
Kunjungan:
299
kata:
600
Diterbitkan di: Oktober 08, 2007
Puisi Perancis-Indonesia (3) Mes Deux Filles Victor Hugo Oleh : A. Kohar Ibrahim DALAM makalah berjudul « Tiga Pendekar Puisi Perancis Abad XIX » yang disiar Majalah Budaya Duabelas nomor Februari 2006, antara lain saya utarakan, dengan menyimak « L’histoire de la poèsie », bahwasanya Revolusi Romantik itu tak lepas dari kondisi sosio-ekonomi yang baru : Puisi, terbebaskan dari pengekangan kaum pembesar atau penguasa, telah menjadi bebas merdeka dan gratis. Oleh sebab itulah puisi bisa kembali berkenaan dengan individu dalam artian luas, dan bukan lagi terbatas untuk mengabdi atau memuja-muji sekelompok pembesar atau penguasa. Terhadap kaum yang belakangan ini malah arahan ujung pena penyair bukan hanya bebas merdeka untuk mengekspsresikan persetujuan atau puja-puji, melainkan juga bisa menunjukkan keberbedaan, mengkritisi atau kecaman. Dalam hal ini, tak syak lagi, Victor Hugo merupakan salah seorang pujangga yang jadi bukti dan teladan cemerlang. Keteladanan dalam sikap-pendirian yang teriring perbuatan atau aktivitas dan kreativitasnya, baik sebagai insan biasa maupun sebagai seniman atau pujangga. Salah seorang tokoh pekerja kebudayaan yang konsisten dan kreatif yang berdampak luar biasa dalam perkembangan kehidupan masyarakat manusia, khususnya kehidupan kebudayaan dan lebih khusus lagi kehidupan bahasa dan kesusastraan Perancis. Konsekwensinya, selain memanen puja-pujian, juga kecaman bahkan ancaman teriring hukuman sebagai salah seorang yang disingkirkan oleh pihak kaum pembesar atau pemegang kekuasaan negara, hingga pernah jadi salah seorang dari kaum eksilan. Sekalipun, bahkan sebagai eksilan, Hugo tetap sebagai pejuang yang anti-otoriterisme, dengan antara lain karyanya berjudul « Napoléon le petit ». Napoleon Si Kecil. Salah satu karya eksilnya di Brussel, yang masyhur dengan isinya yang secara tajam mengkritisi kekuasaan Louis Napoléon Bonaparte. Begitupun, dari sikap-pendirian dan kebesaran serta kekuatan kreativitasnya, adalah pertanda yang amat signifikan yang mencerminkan perhatian atau kehalus-lembutan perasaannya sebagai manusia, khususnya sebagai seorang ayah. Seperti yang amat tipikal sekali terekspresikan dalam sajaknya berjudul « Demain, dès l’aube » atau « Besok, Setelah Dinihari » itu. Sajak yang tertuju kepada seorang puterinya yang telah meninggal dunia. Dan bagaimana perasaan seorang penyair sekaligus ayah kepada anak-anaknya, betapa rasa kasih-sayang-nya, pun tercerminkan dalam sajaknya yang lain, yang berjudul « Mes deux filles » atau « Dua Anak Gadis Ku ». Mes Deux Filles Dans le frais clair-obscur du soir charmant qui tombent, L’une pareille au cygne et l’autre à la colombe, Belles, et toutes deux joyeuse, ô douceur ! Voyez, la grande sœur et la petite sœur ! Sont assises au seuil de jardin, et sur elles Un bouquet de l’œillets blancs aux longs tiges frêles, Dans une urne de marbre agité par le vent, Se penche, et les regard, immobile et vivant, Et frissonne dans l’ombre, et semble, au bord du vase, Un vol de papillons arrêté dans l’extase. (Mes deux filles, Victor Hugo, in Histoire En Ligne) Dua Anak Gadis Ku Dalam rayapan gelap-terang malam sejuk menyenangkan, Yang pertama serupa angsa yang kedua seperti merpati, Jelita, keduanya cerah ceria, oh, lemah gemulai! Lihatlah, sang kakak sang adik Duduk duduk di pinggir kebun, dan di atas mereka Serangkum bunga anyelir putih bertangkai langsing panjang Dalam jambang marmer terhembus angin goyang Tersandar, menatap keduanya, tertegun dan hidup, Bergetar dalam kelam, mengesankan, di tepi jambangan Terbang sang kupu-kupu terhenti terpancang pandang tercengang. Sajak « Dua Anak Gadis Ku » -- Mes deux filles -- saya petik dari « Histore En Ligne », ditulis oleh Victor Hugo di Enghien, Juni 1842, ketika selagi sebagai salah seorang eksilan di Kerajaan Belgia. (Akibr).*** Tulis ringkasan Anda di sini.