Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Membaca Sejarah Seni

.

Membaca Sejarah Seni

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Herry Dim
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 319  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 08, 2007
Membaca Sejarah Seni
Oleh Herry Dim
Pameran dengan tajuk Sejarah Terpisah, 30 Juli-31 Agustus 2004 di
Sanggar Luhur, Bandung, menyajikan dua retrospeksi kecil karya-karya
Sudjana Kerton di satu ruang dan di ruang lain yang menampilkan
karya-karya Ahmad Sadali, But Muchtar, Diyanto, Haryadi Suadi, Isa
Perkasa, Kaboel Suadi, Mochtar Apin, Priyanto S, Rini Chairin Cahyati,
Sunaryo, T Sutanto, Tisna Sanjaya, Tohny Joesoef, dan Wahdi Sumanta.Demikian pula teks yang ditulis Aminudin TH Siregar,
dengan meminjam kerangka teoritik Nietzche, pada dasarnya menyampaikan
inti kalimat "memulai sejarah tanpa terlilit ingatan-ingatan terhadap
narasi tertentu yang cenderung membatasi". Yang dimaksud narasi di sini, kira-kira, adalah juga "riwayat sejarah nasional" yang dijadikan prasyarat oleh Trisno Sumardjo. Bedanya hanyalah pada "kerumitan" cara berpikir yang
padahal dalam hal-hal tertentu relatif tak perlu dan bahkan beberapa
"teori pinjaman" itu pada gilirannya meruntuhkan kembali dasar
pikirannya sendiri. Maka, menjadi tak terbaca bahwa Nietzche sendiri
telah menjadi lain dibandingkan ketika ia mengeluarkan pernyataannya di
tahun 1874 dengan Nietzche yang kita baca sekarang, yaitu Nietzche yang
telah menyejarah.Menjadi kian rumit ketika Aminudin TH Siregar
mengaitkan Nietzche dengan Erich Fromm demi memperlihatkan sinyal
bahaya dari "nasionalisme" yang bisa berujung pada fasisme.
Padahal, buah dari Uebermensch- nya Nietzche yang paling sukses itu
dicapai antara lain oleh Hitler yang terbukti melaksanakan Wille zur
Macht dengan teguh.Narasi historis artinya bergeser kepada gairah membangun narasi teori yang berdasarkan kepada fenomen-fenomen yang ada.Ini bukan maksudnya untuk mengatakan tak pernah ada
fenomen yang muncul, bahkan mengakui sesadar-sadarnya limpahan fenomen
(di dalam ataupun di luar Seni Rupa ITB) itu terus menggelegak hingga
sekarang. Yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah "kegagahan"
dan heroisme yang entah untuk apa, sementara dunia pikiran dibiarkan
menjauh dan tak pernah dianggap penting. Akibatnya, sejarah senantiasa dibaca sebagai perjalanan kalah-menang, yang satu memukul yang lain, dan semacamnya.

Namun, sekaligus sebagai ancang-ancang, hendaknya
tidak pula memulai dengan justifikasi fatalis yang sama semisal
mengatakan bahwa seni rupa yang berkaitan dengan sejarah kenegaraan
sebagai tidak masuk bagian atau sekurang-kurangnya dikatakan tidak
modern, dan/atau "terlilit ingatan-ingatan terhadap narasi tertentu". Mengapa dan bagaimana saling bersambung atau mengapa
dan bagaimana bertolak belakang, jawaban-jawaban dari pertanyaan
tersebut akhirnya tidak di dalam posisi kalah-menang sebab satu sama
lain sesungguhnya memberikan "pemaknaan" terhadap kehidupan ini.

Padahal, penganan yang terbuat dari tepung ketan,
warna hijau muda, diberi kelapa, dan di dalamnya berisi gula merah pun
memiliki nama dan teridentifikasi sebagai kue klepon.

Ringkasan lain tentang Membaca Sejarah Seni
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Jumlah komentar dalam abstrak ini: 1

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. koment

    samantha

    28 Oktober 2007

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------