Hebatnya, tontonan absurd, sebagaimana pula pementasan-pementasan naskah Putu yang lain, dipadati penonton. Dalam waktu sekejap, kejadian di panggung mengingatkan
kita kepada binatang mitologi yang "lahir" di
Bali: Barong.
Kali lain ia berubah
menjadi sosok Rangda yang menyeramkan. Di waktu
lain lagi sosok Barong menjelma menjadi
makhluk asing dari luar angkasa
bernama Alien.
Putu tidak sedang merampas elemen-elemen tradisi (Bali) untuk kemudian
dihadap-hadapkan
dengan elemen modern (Barat), tidak pula antara
sesuatu yang adi luhung dan sesuatu yang pop. I
Selubung kain putih yang "ditarikan" aktor-aktor
Teater Mandiri, di tangan Putu lahir menjadi makhluk-makhluk imajinatif. Ia menyerupai makhluk bersel satu, seperti amuba, yang bentuknya bisa saja mengikuti fantasi para penafsirnyaSosok-sosok yang mencoba berlari dengan
menggapai-gapai seutas tali, mungkin ini simbol dari bujukan, selalu
ditelan makhluk "gaib" tadi.
Itulah cara Putu menawarkan gagasan: cobalah sekarang kita mulai dari
titik nol, di mana segala
persoalan dikembalikan kepada diri sendiri.
"Dan kita berhadap-hadapan sebagai manusia-manusia tanpa persoalan. Lepaskan semua persoalan yang pernah ada dalam diri kita dulu, baru kita berbicara untuk memecahkan perang," kata Putu. "Apakah saya masih dianggap orang Bali, karena tidak
lagi menjalani segala adat-istiadat seperti di Bali, karena saya hidup
di kota seperti Jakarta," tanya dia. Putu bahkan barangkali merupakan satu-satunya dramawan Indonesia yang setiap saat bersentuhan langsung dengan dunia luar. Teater Mandiri menjadi teater yang paling sering berpentas dan berkolaborasi dengan para dramawan asing.
Hebatnya, ketika berekspresi kultur Bali yang "ditolak" Putu dengan
menjalani gaya hidup urban, tiba-tiba menyamar menjadi jejak-jejak
nilai.
Ringkasan lain tentang "Zero" Mengakhiri Paradoks Manusia