Buku Sastra Melayu Lintas Daerah terbitan Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Oktober lalu mencuatkan ide
mengembangkan bahan dasar melayu di Asia Tenggara . Sastra Melayu bertaut
dengan kehidupan masyarakat
Melayu, yang amat beraneka, berkembang ketika kerajaan Melayu seperti
di Aceh berjaya di abad ke-15 dan ke-16, dan masyarakatnya terlindungi
oleh kekuasaan legal kesultanan. Saat sebuah
kerajaan Melayu runtuh, sastra Melayu tidak serta-merta rubuh, namun
terbawa bersama pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Melayu yang lain,
mulai dari Aceh, Riau, Pontianak, Banjarmasin, di Butun di Sulawesi
Tenggara, Makassar di Sulawesi Selatan, Mataram, dan Bima di Nusa
Tenggara Barat. Dengan jelas buku ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu
telah berfungsi
sebagai sarana sastra yang luas area pemakaian dan
pendukungnya, sedangkan pendukungnya dari dulu hingga kini memperkaya
sastra Melayu sebagai hasil dialog dengan budaya dunia yang besar,
seperti budaya Hindu, Islam (Arab Parsi), Barat, dan China.Dalam konteks kesastraan Indonesia, sastra Melayu
menjadi bagian yang kedudukan dan fungsinya sama dengan sastra daerah
lainnya, dengan kelebihannya semata-mata pada posisi bahasa Melayu
sebagai asal bahasa Indonesia.Selain itu, sastra Melayu dianggap mencakup sastra
yang bahasanya masih dapat disebut Melayu, bukan perwujudannya dalam
bahasa-bahasa yang tumbuh seiring dengan masyarakat bercitra modern,
seperti bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia.
Selanjutnya, Bab I Pendahuluan menawarkan catatan arkeologis sebagai
latar berkembangnya bahasa dan sastra Melayu, uraian tentang dialek dan
ragam bahasa Melayu, berpencarnya bahasa tersebut dari masa ke masa,
aksara dan pernaskahan sastra Melayu, hubungan antarbangsa,
perkembangan sastra Melayu, dan kerangka tinjauan sejarah budaya.Pusat-pusat pengembangan sastra Melayu, yaitu Aceh,
Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Patani, Malaka, Johor, Singapura,
Palembang, Riau-Siak-Indragiri, Deli Serdang, Terengganu, Sumatera
Barat, Kerinci, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Ternate, Butun, Betawi,
Lombok, Bali, dan Bima diuraikan dalam Bab II Tempat- tempat
Perkembangan Sastra Melayu. Pelayaran dan hubungan antarkerajaan di wilayah
Nusantara, terutama sejak abad ke-16, dan abad ke-17, telah begitu
berkembang dan memacu perkembangan sastra.
Catatan
Mengembangkan bahan dasar Melayu di Asia Tenggara, tidak sekonkret ide
Mataim Bakar dari Brunei Darussalam dalam artikel Potensi Bahasa Melayu
sebagai Bahasa Utama ASEAN (lihat Katharina Endriati Sukanto,ed,
Menabur Benih Menuai Kasih, Persembahan Karya Bahasa, Sosial, dan
Budaya untuk Anton M Moeliono Pada Ulang Tahunnya yang ke 75, Yayasan
Obor, Jakarta, hal 539) Toh, itu bisa melecut ide kreatif untuk,
misalnya, menggarap sesuatu dari kenyataan banyaknya naskah wayang
dalam bahasa Melayu seperti telah dipaparkan oleh A Ikram (lihat Bahasa
dan Sastra Tahun 1 No 2 1975).