Bagong K Meninggal
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
58
kata:
300
Diterbitkan di: Oktober 08, 2007
JENAZAH Bagong Kussudiardja, koreografer dan pelukis
handal dari Yogyakarta, Rabu (16/6) siang dimakamkan di sisi makam
istri pertamanya, Sofiana, di makam keluarga Sembungan, Kecamatan
Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prosesi pemakaman dihadiri putra-putrinya, kerabat, dan ratusan pelayat
yang terdiri dari sejumlah budayawan, seniman, pejabat, murid, dan
tokoh masyarakat. Tampak pula budayawan Emha Ainun Nadjib, Suprapto
Suryodarmo, penari Didik Nini Thowok dan Bimo Wiwohatmo, sutradara dan
aktor ketoprak Bondan Nusantara dan Ign Wahono, Yani Sapto Hudoyo, GKR
Hemas bersama para putri dan menantu, dan pelukis Djoko Pekik, aktivis
seni Suwariyun, dan mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Rahardi
Ramelan.Karya-karya tari dan lukisnya memiliki karakter dan taksu yang kuat, yang membedakannya dengan karya lain. Kepergiannya telah mewariskan jejak sejarah yang bisa mendorong seniman-seniman muda untuk berproses kreatif lebih keras lagi.
Sardono, yang memberikan sambutan berupa "dialog" dengan Bagong
Kussudihardjo dalam bahasa Jawa ngoko, bercerita, pertemuan pertamanya
di usia 19 tahun dengan Bagong di New York (Amerika Serikat),
berlangsung saat Bagong belajar tari modern dan menjadi stage manager
di sana. Sebagai pencipta tari dan koreografer, Bagong mampu
melahirkan dan membawakan tari-tarian dengan gerak-gerak yang dimanis,
energik, dan hidup," kata Bandem.
Selain energik, Bagong juga mendasarkan estetika seni tarinya pada keikhlasan untuk mengabdi pada kemanusiaan.
Keikhlasan dan pengabdian itu mewarnai hampir semua karya Bagong,
seperti tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan
dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an).