Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Siklus Watugunung dalam Teater Absurd

Siklus Watugunung dalam Teater Absurd

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Bre Redana
ª
 
Tak kalah menarik dari itu adalah gagasan-gagasan mereka itu sendiri sampai ke Waktu Batu-sebuah risalah yang hendak membedah mitos Watugunung, yang merupakan semacam narasi di balik konsepsi mengenai waktu di Bali, atau konsepsi-konsepsi di balik tika (kalender) Bali. Ada semacam keganjilan (incongruity) menyangkut manusia berikut lingkungan eksistensial mereka, yang menjadi perhatian mereka yang tertarik pada gagasan-gagasan absurd, yang manifestasinya kemudian adalah pada gabungan antara kegetiran dan humor. Oleh karenanya, yang muncul pada karya-karya absurd umumnya adalah paduan antara kengiluan itu dan komedi yang tingkatnya sampai pada kemustahilan. Yakni, mitos Watugunung itu, yang merupakan dasar dari konsepsi mengenai waktu dari masyarakat tradisional yang akarnya bahkan balik ke zaman Majapahit. Jean Couteau yang bersama Georges Breguet pernah menulis buku Un Autre Temps (Waktu yang Lain) dan mencoba menelusuri siklus waktu dari tika Bali, mengatakan waktu di Bali (dan tentu saja juga pada sebagian masyarakat tradisional Jawa) sifatnya tidak rigid seperti di Barat.Dari dimensi waktu saja, ketika siklus waktu yang lain (dalam bahasa Jean Couteau un autre temps) diperhadapkan dengan siklus waktu modern yang lebih kita kenal dan kita jalani, akan muncul sesuatu yang absurd, sesuatu "yang tak nyambung". Semua itu ditampilkan di panggung dengan tata artistik yang manis, efektif dengan penggunaan empat lengkungan yang secara dinamis mengubah-ubah konfigurasi panggung, berikut pemain-pemain dengan kelenturan tubuh yang sangat terolah. Kekenesannya tertangkap, tapi adegan itu akan lebih berhasil lagi kalau mereka bisa menampilkan bukan hanya sebuah adegan yang manis secara artistik, tapi lucu, getir-tingkat mendasar dari penderitaan manusia yang sering kita pahami sebagai "absurd". Oleh karenanya kami percaya, dengan kerja keras berikut penjelajahan yang tak henti-henti dari sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan kawan-kawan, suatu saat Teater Garasi bakal bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dan dengan itu dia jangan-jangan bakal menjadi kelompok teater terbaik di Indonesia.
Diterbitkan di: 08 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.