Tak kalah menarik
dari itu adalah gagasan-gagasan
mereka itu sendiri sampai ke
Waktu Batu-sebuah risalah yang hendak
membedah mitos Watugunung, yang merupakan semacam narasi di balik
konsepsi mengenai waktu di Bali, atau konsepsi-konsepsi di balik tika
(kalender) Bali. Ada semacam keganjilan (incongruity) menyangkut
manusia berikut lingkungan eksistensial mereka, yang menjadi perhatian
mereka yang tertarik pada gagasan-gagasan
absurd, yang manifestasinya
kemudian adalah pada gabungan antara kegetiran dan humor.
Oleh karenanya, yang muncul pada karya-karya absurd umumnya adalah
paduan antara kengiluan itu dan komedi yang tingkatnya sampai pada
kemustahilan.
Yakni, mitos Watugunung itu, yang merupakan dasar dari
konsepsi mengenai waktu dari masyarakat tradisional yang akarnya bahkan
balik ke zaman Majapahit.
Jean Couteau yang bersama Georges Breguet pernah menulis buku Un Autre
Temps (Waktu yang Lain) dan mencoba menelusuri
siklus waktu dari tika
Bali, mengatakan waktu di Bali (dan tentu saja juga pada sebagian
masyarakat tradisional Jawa) sifatnya tidak rigid seperti di Barat.Dari dimensi waktu saja, ketika siklus waktu yang lain
(dalam bahasa Jean Couteau un autre temps) diperhadapkan
dengan siklus
waktu modern yang lebih kita kenal dan kita jalani, akan muncul sesuatu
yang absurd, sesuatu "yang tak nyambung".
Semua itu ditampilkan di panggung dengan tata artistik yang manis,
efektif dengan penggunaan empat lengkungan yang secara dinamis
mengubah-ubah konfigurasi panggung, berikut pemain-pemain dengan
kelenturan tubuh yang sangat terolah. Kekenesannya tertangkap, tapi adegan itu akan lebih
berhasil lagi kalau mereka bisa menampilkan bukan hanya sebuah adegan
yang manis secara artistik, tapi lucu, getir-tingkat mendasar dari
penderitaan manusia yang sering kita pahami sebagai "absurd".
Oleh karenanya kami percaya, dengan kerja keras
berikut penjelajahan yang tak henti-henti dari sutradara Yudi Ahmad
Tajudin dan kawan-kawan, suatu saat Teater Garasi bakal bisa
menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dan dengan itu dia jangan-jangan
bakal menjadi kelompok teater terbaik di Indonesia.
Ringkasan lain tentang Siklus Watugunung dalam Teater Absurd