Pusat Studi
Perempuan, Media dan Seni, pertengahan Mei lalu di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Perhatian lembaga
ini adalah membongkar imaji
perempuan dalam seni dan
media yang dengan sendirinya menjawab pertanyaan pada bagian awal
paragraf tulisan ini.
Ada yang ditegaskan lembaga tersebut: apa yang disebut
kondisi patalogis, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan tidak saja
berlangsung pada tataran material, tetapi juga menyangkut imajinasi dan
kesadaran yang berserekan dalam dunia seni dan media.Kondisi diskursif adalah doksa (kondisi status quo
yang sudah tertanam sebagai kesadaran) yang harus dibalik, dibongkar
dengan memproduksi teks tandingan pula. Di dalam diskursus terdapat elemen yang bisa disatukan
oleh artikulasi yang berfungsi sebagai perekat sementara elemen-elemen
yang berbeda, dalam waktu tertentu.Timbulnya perbedaan tafsiran terhadap sosok Anjani,
bagi penulis, jauh lebih penting daripada imaji mengenai perempuan yang
setia, penuh kerja domestik, dan makhluk yang patuh pada kehendak suami
dan mengalami segudang kekerasan domestik dalam diskursus feminisme
selama ini.Meskipun demikian, apa yang dilakukan Yosephine dan
Teater Garasi adalah upaya yang harus diapresiasi dalam konteks
perjuangan diskursif dalam gerakan sosial untuk mencapai kesetaraan
bagi semua.