KEBUDAYAAN Peranakan Tionghoa merupakan kebudayaan yang terkaya di Asia Tenggara.
Hal
ini tampak
dari pakaian, makanan, dan bahasanya yang merupakan
sintesa dari kebudayaan Tionghoa, Melayu, Belanda, Portugis dan
pelbagai kebudayaan lokal, tergantung di mana saja kaum Peranakan ini
bermukim.Terjemahan-terjemahan ini disusul pula
dengan beberapa
karya ciptaan sendiri yang di masa itu masih merupakan reportase
berbentuk syair, seperti syair kadatangan Sri Maharaja Siam di Betawi
yang pertama kali diterbitkan
pada tahun 1870. Di samping terjemahan dari bahasa Tionghoa dan Eropa
terdapat
juga karya fiksi dan nonfiksi seperti buku refe-rensi,
misalnya mengenai cara
menulis surat, membuat pidato, dan sebagainya.
Perkembangan karya fiksi yang dimulai pada pergantian abad ke- 20
berjalan seiring dengan perkembangan politik dan sosial di luar maupun
di dalam negeri yang secara langsung maupun tidak langsung mempunyai
dampak terhadap masyarakat Tionghoa Indonesia.
Perkembangan politik dan sosial ini juga mempunyai dampak terhadap
tema-tema yang dipakai untuk penulisan novel-novel, karena hubungan
antara kesastraan dan masyarakat biasanya dianggap cukup erat.Badan sosial yang mendirikan sekolah-sekolah ini adalah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), yang didirikan pada tahun 1900. Putra-putri keturunan Tionghoa dapat memilih antara
sekolah Belanda yang berorientasi pada Indonesia atau sekolah Tionghoa
yang berkiblat pada Tiongkok. Meskipun sebelum surat-surat RA Kartini diterbitkan
sudah ada perempuan-perempuan keturunan Tionghoa yang masuk sekolah dan
bahkan sudah menulis kepada pemerintah Hindia Belanda agar diizinkan
untuk mengikuti ujian masuk sekolah guru, jumlah perempuan yang
berpendidikan masih sangat minim, dan belum banyak diketahui mengenai
mereka.
Hal Ini sangat jelas dari tulisan-tulisan yang muncul pada sekitar 20-an, di mana banyak tulisan adalah mengenai masalah ini.
Cerita Oey See mengenai seorang yang menjadi kaya
karena menemukan uang kertas di sebuah kampung, ketika melihat seorang
anak main layang-layangan yang terbuat dari uang kertas.
Sebagai seorang yang mendalami macam-macam agama, ia
juga menyajikan asas-asas agama itu kepada pembacanya seperti
reinkarnasi dari agama Buddha, mistik Theosofi yang di masa itu sangat
populer berkat kunjungan Khrisnamurti ke Indonesia.
Seorang pengarang lain yang juga sangat produktif adalah Nyoo Cheong
Seng, yang juga pernah menulis lebih dari 100 novel dengan namanya
sendiri, dan dengan nama Monsieur d''Amour (M d''Amour), beberapa naskah
sandiwara dan film, serta jumlah cerpen yang tidak terhitung, karena
tersebar di banyak majalah yang tidak semuanya dapat ditelusuri.Cerita-cerita yang disajikan Nyoo beraneka ragam dan
ia sering menulis cerita-cerita daerah, yang dicatatnya pada saat ia
turut dengan rombongan dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh kepada
pembacanya. Cerita ini adalah mengenai kuda Sunan Mas (1703-1708)
yang menceritakan putri Sunan yang jatuh cinta dengan Tedjo, putra
seorang Kiai yang menentang Sunan Mas. Ada yang pergi untuk masuk tentara dan ada juga yang melanjutkan pendidikan. Dahlia membela kaum wanita dengan menulis mengenai
kelakuan baik mereka dan mengecam kaum lelaki yang berpikiran sempit
dan melihat tindakan kurang pantas di setiap kelakuan wanita. Yang menarik adalah bahwa penulis ini mula-mula banyak menulis tentang masyarakat Eropa di Perancis, Turki, dan lain-lain. Yang unik dari Kho ialah bahwa ia tidak
menterjemahkan dan juga tidak menyadur cerita silat dari bahasa Cina
tetapi membuat karya ciptaan sendiri dengan setting di Cina dan
Indonesia zaman dahulu.
Ringkasan lain tentang Kesastraan Melayu Tionghoa