JUDUL di atas
tidak asli, mencomot dan adaptasi dari judul/larik pertama puisi Walt Whitman (1819-1892), I hear America singing.Atau diktator proletariat di Soviet (dulu) dan Cina
yang beri rakyatnya roti/nasi dan olahraga (kejatuhan Uni Soviet
karena tidak cukup mampu bikin roti, tetapi lebih mahir bikin nuklir.)
Atau diktator di Amerika Latin yang kasih daging sapi bakar dan sepak bola.
Mereka generasi tahun 2000an
dengan pengalaman dan rujukan yang berbeda
dengan generasi sebelumnya karena mereka tumbuh bersama "teknologi
informasi" yang terbuka dan mengglobal, maka mereka belajar musik serta
seni pertunjukan dan bukan pertunjukan dari televisi, bioskop, teater,
radio, CD, VCD, Internet, atau live show
bahkan pendidikan formal.Stilisasi Siti yang bersenandung Melayu begitu apik,
rancak, dan cantik, senyum wajar dan mata yang ekspresif, berjoget
seirama lagu, semua keterampilan dan keseriusannya pada tingkat
tertentu membawa pada nostalgia kejayaan orkes Melayu, sejak Lili
Suhaeri Medan, Saiful Bahri Jakarta,
sampai A Kadir, A Malik
BZ-"Keagungan Tuhan" dan Ida Laila Surabaya, bahkan sampai kebesaran
budaya Melayu yang berkata bijak, "Tak Melayu Hilang di Bumi".
Dan mungkin akan muncul trend baru: dangdut kreatif sintesa bahasa-lirik dengan bahasa-tubuh yang melebihi Siti dan Inul. Permusuhan, ketidaksukaan, ketidakrelaan, "peringatan
keras dengan berang-berang", dan persepsi kacamata kuda, karena merasa
sebagai "raja" (sebutan dunia pentas, ilusi, angan-angan, tak berbeda
dengan "raja lenong, ketoprak, tonil") tidak direken atau disungkemi,
lebih kreatif disalurkan lewat nasihat yang arif bijaksana dengan nada
"dakwah" atau konsultasi, kritik apresiatif, simpati, inspirasi, dan
keteladanan demi kemajuan dan perbaikan.
Ringkasan lain tentang "Kudengar Indonesia Berdangdut"