Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Membaur Tanpa Lupakan Identitas Tionghoa

.

Membaur Tanpa Lupakan Identitas Tionghoa

Pengarang : Iwan Santoso
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 82  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 06, 2007
Berbeda tetapi satu, itulah gagasan luhur sebuah
pembauran di mata Kwee Tik Hoay (1885-1952), seorang sastrawan
Melayu-Tionghoa yang melahirkan 200 karya semasa hidupnya.

Keberadaan karya Kwee semasa segregasi berdasarkan
suku bangsa begitu tajam sungguh menjadi sebuah terobosan mengkritisi
kebijakan pemerintah kolonial dengan cara yang halus bahkan mengundang
simpati.
Segregasi yang memisahkan penduduk Nusantara bermula tatkala kolonial
Belanda melalui Indische Staatsreglement (IS) atau peraturan negara,
demi mengukuhkan penjajahan memisahkan penduduk Nusantara dalam tiga
golongan, yaitu Eropa atau yang dianggap sederajat, Timur Asing
(Vreemde Oosterlingen-Red), dan Bumiputra.Adapun warga Tionghoa, Arab, India, dan kulit berwarna
non-Bumiputra dijadikan bemper pemisah dengan anak negeri Bumiputra
yang menjadi kelompok terbawah dalam strata masyarakat kolonial Belanda.Dalam novel Bunga Roos dari Tjikembang (1927) yang
baru saja dipentaskan Teater Bejana di Taman Ismail Marzuki, Kwee
dengan piawai menggambarkan hubungan cinta mendalam seorang pria
Tionghoa dengan perempuan Sunda yang tidak lazim di masa itu.
Novel yang menurut Myra Sidharta terinspirasi karya Shakespeare, A
Midsummer Night Dream, dengan gamblang menggambarkan ketulusan cinta
dan interaksi antargolongan masyarakat yang melanggar kelaziman masa
Kolonial.
Hubungan asmara antarbangsa yang lazim pada masa itu adalah relasi
tidak seimbang antara pria berkedudukan sosial lebih tinggi dengan
perempuan Bumiputra yang memiliki kedudukan lebih rendah sebagai
"Nyai", atau dalam bahasa modern diposisikan sebagai "wanita piaraan".

Kwee melalui Bunga Roos dari Tjikembang secara
gamblang menggambarkan keluhuran jiwa seorang Nyai Marsiti asal
Pasundan yang dicintai setulus hati oleh Oh Ay Tjeng yang menjadi
administratur sebuah perkebunan di kaki Gunung Salak, Jawa Barat.

Namun pesan yang disampaikan adalah betapa keluhuran
hati dimiliki suku bangsa dalam perbedaan kontras yang kerap kali
hubungan lintas budaya lebih diwarnai saling curiga, pupus dalam karya
Kwee Tik Hoay. Karya sastra peranakan Tionghoa tidak mendapat
pengakuan dalam khazanah budaya bangsa, dan barang tentu gagasan yang
dibawa pun secara perlahan-lahan terlupakan.

Kwee berusaha menyingkirkan prasangka dan ketakutan
terhadap kawin campur sambil tetap mengapresiasi identitas Tionghoa dan
suku-suku yang ada. Upaya menjadi Indonesia yang "Indo" inilah yang sebetulnya dirintis Kwee Tik Hoay.

Ringkasan lain tentang Membaur Tanpa Lupakan Identitas Tionghoa
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------