• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>"I La Galigo" Robert Wilson dan Taman Mini

.

"I La Galigo" Robert Wilson dan Taman Mini

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : UGORAN PRASAD
Teater Tanah Air, gedung pertunjukan tempat I La
Galigo dimainkan, adalah gedung yang berada di tengah kompleks monumen

yang berkarat. Gedung teater ini terletak di
belakang stasiun Taman Budaya, berhadapan dengan anjungan Provinsi
Bengkulu, bagian dari proyek miniatur Indonesia yang dicanangkan di
tahun 1970. Taman Mini adalah Indonesia yang
saya kira sudah saya kenali 20 tahun yang lalu di kali pertama
mendatangi tempat itu sebagai seorang bocah berusia tujuh tahun. Negara adalah lembaga yang kerap melakukan mobilisasi
kebudayaan sebagai penanda kuasanya, mengeluarkan uang yang sangat
besar untuk sekadar bikin tugu peringatan atau air mancur. Dalam amatan Bharucha, tidak saja tafsiran yang
menyederhanakan kebudayaan Hindu ini kembali ke tanah kelahirannya
sebagai komoditas, teater ini juga dirayakan besar-besaran oleh pers
dan sebagian besar kaum intelektual dalam forum elite penonton undangan.
Bagi Bharucha, pembelaan-pembelaan yang dinyatakan atas proyek ini dan
tidak adanya penelusuran kritis dari forum-forum di atas merupakan
bentuk dari ”colonial hangover”. Bharucha juga
merasa perlu mencatat bahwa dana yang dikeluarkan oleh pemerintah India
dan satelit budayanya untuk proyek ”Puisi Sejarah Manusia” ini jauh di
atas yang pernah mereka keluarkan untuk kelompok budaya di India.Peter Brook mengudar ulang konvensi teater berbasis
teks dan kekuatan aktor, sementara sebagaimana klaim sebuah wawancara
di Der Spiegel, Robert Wilson seperti datang entah dari mana dan
menancapkan satu jenis estetika teater dengan kekuatan ekspresi visual
yang berbeda dengan teater sebelumnya. Setelah dipentaskan di Singapura, beberapa kota di
Eropa, dan terakhir New York, I La Galigo di pentaskan di ”rumah”, di
Jakarta. Ia punya sejarah yang sama panjangnya dengan jenis-jenis lain kesenian modern yang kita tiru-tiru dengan bersemangat.I La Galigo memaksa mobilisasi modal yang jumlahnya
seumur hidup tidak pernah dilihat oleh para penerjemah partikelir I La
Galigo, bahkan lebih jauh: seumur hidup belum pernah dilihat kebanyakan
pelaku teater di Indonesia. Sejarah teater di
Indonesia tidak pernah berhubungan dengan mobilisasi modal sedemikian
besar, sebagaimana kebanyakan aktor teater di Indonesia belum pernah
tinggal di Hotel Hilton Jakarta. Hebatnya, kali
ini modal yang besar itu adalah dana yang dikeluarkan pihak lokal,
Indonesia, yang sedang menghadapi harga minyak yang tinggi.
. Sementara itu, sejarah teater Indonesia adalah suatu
catatan panjang yang belum berhasil membuat kelompok teater di
Indonesia berani menuliskan angka Rp 250.000 di atas tiket masuk
pertunjukan mereka, I La Galigo adalah pertunjukan yang menyerang,
melumpuhkan logika umum kenyataan sosial, terutama karena tidak bisa
dibayangkan hubungan antara orang Indonesia pembeli tiket seharga Rp 1
juta dan realitas teater di Indonesia atau lebih jauh, kebudayaan
Indonesia.Saya sedang menolak menatap evolusi pertumbuhan teater
di Indonesia yang sudah di pinggir yang paling pinggir itu sekadar
menjadi konsumsi dan festival mata segelintir elite kelas pemilik
modal, seperti seolah proyek menimbang gagasan kebudayaan yang sudah
kadung dikonstruksi pasar untuk menjadi kepentingan segelintir elite
intelektual terus-menerus lapar persoalan.
Sayang, kebanyakan tubuh-tubuh di I La Galigo memunyai
modal yang terbatas, mengeluarkan gerak yang menggurui, lengkap dengan
komposisi dan koreografi dengan ruang interpretasi yang tertutup. Cara memperlakukan aktor yang sedemikian ia
kembangkan berangkat dari tafsirnya atas konvensi presentasi formal
yang dikembangkan teater Noh, yang barangkali tidak umum dipahami
penonton Barat. Estetika teater Robert Wilson
disusun dari memorabilia perjalanan yang panjang, ia bekerja di Amerika
Utara dan Selatan, di Eropa, di Timur Jauh, dan Timur Dekat.  Universitas Wales Aberystwyth membuka studi
pascasarjana ”Theater and The World”, frase yang diambil dari judul
buku Bharucha yang terkenal itu.
Diterbitkan di: Oktober 06, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.