Strategi gerakan
perempuan di Indonesia semakin meluaskan sayap.
Pentas yang dijadwalkan 12-14 Agustus di Graha Bakti
Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, itu diproduksi Institut
Ungu, Jaringan Nasional
Perempuan Mahardhika, dan Perguruan Rakyat
Merdeka.Salah satu tetralogi Pulau Buru itu menggambarkan perjuangan tokoh perempuan, Nyai Ontosoroh, yang melawan ketidakadilan. Perempuan desa itu pun berubah menjadi seorang nyai
modern yang piawai menjalankan perusahaan dan dikenal sebagai Nyai
Ontosoroh. Karya ini memberikan inspirasi, bagaimana perempuan
tidak menyerah pada nasib atau situasi yang diskriminatif, melainkan
berjuang mengembangkan sumber daya dan aspirasinya sendiri.
Pementasan Ontosoroh dikerjakan
dengan kolaborasi antara sejumlah
aktivis perempuan, seniman teater, pematung, artis, perancang busana,
dan sejumlah orang yang perhatian pada gerakan perempuan. Lanjutan
Gagasan untuk mementaskan novel perempuan dalam bentuk teater pernah
dilakukan Faiza dengan mengadaptasi novel Perempuan di Titik Nol karya
feminis Mesir, Nawal el Saadawi, dalam pentas teater di TIM, Jakarta,
tahun 2002.Tahun 2001, lakon Bom Waktu Perempuan oleh Teater Kita
Makassar dan LBH-Pemberdayaan Perempuan Indonesia juga menyoal realitas
kekerasan terhadap perempuan.
Tahun 2002, Koalisi Perempuan Indonesia menggelar pentas monolog berjudul Vagina Monolog dengan naskah asli karangan Eve Ensler.
Tahun itu juga, Teater Perempuan Independen pimpinan Lena Simanjuntak
menggerakkan para perempuan pedesaan untuk memainkan lakon Suara dan
Suara di Taman Budaya, Medan.Bagaimanapun, kerja seni teater tetap menghajatkan
kemampuan menggarap gagasan, naskah, dramaturgi, estetika di atas
panggung, dan teknis matang yang membuat pergelaran menjadi pentas seni
yang menarik. Jika para aktivis perempuan itu
tak mengelolanya dengan maksimal, bisa jadi seni teater malah terpasung
oleh slogan kampanye yang gagah.
Apakah semangat gerakan perempuan dan kolaborasi mereka berhasil di atas panggung?