Tulisan dan laporan (reportase) pertunjukan yang
berserak dari tahun ke tahun tersebut kebanyakan berbicara tentang
sinopsis cerita, pemaknaan atas ikon-ikon yang muncul di atas panggung,
penilaian teknis atas jalannya pertunjukan (kemampuan aktor, kualitas
tata panggung, dan lain-lain), atau refleksi si penulis sendiri
terhadap wacana yang ditawarkan dalam pertunjukan tersebut.Namun, saya merasa perlu menggarisbawahi apa yang
disampaikan Umar Kayam berikut ini, khalayak itu bukanlah
penonton yang
datang untuk berkomunikasi
dengan panggung secara individual dengan
bahasa estetika yang personal, melainkan mereka yang datang untuk
menyatakan bahwa mereka adalah bagian yang hidup dari satu kesatuan
yang utuh yang disebut "jagat", atau kosmos. ota yang identik dengan seni massa yang komersial,
menghibur dan baru, pada saat itu bertubrukan dengan unsur tradisional
yang kuat karena mereka kedatangan orang-orang yang masih merindukan
ikatan dengan lingkungan masa lalu dan lingkungan guyup mereka di desa.Yang menjadi penonton teater pada masa itu adalah
generasi yang bersekolah, atau berkuliah, pada sekolah atau universitas
(di kota) yang mengajarkan kepada mereka nilai budaya asing dan baru,
yang industrial.Bentuk yang pertama adalah teater elite, yang
dipisahkan lagi menjadi teater elite yang didukung oleh penguasa demi
kepentingan ekonomi dan politik penguasa, serta teater elite yang
terbentuk pada abad ke-20 oleh dan untuk elite yang terdiri atas
orang-orang yang berorientasi Barat, berpendidikan universitas, para
profesional, dan mahasiswa (Simatupang, 2000).Selain berdiri lembaga pendidikan khusus yang berfokus
pada bidang teater (dan film), seperti Akademi Teater Nasional
Indonesia (ATNI) di Jakarta dan Sekolah Seni Drama dan Film Indonesia
di Yogyakarta, kehidupan teater hadir pula di perguruan tinggi yang
sifatnya lebih umum, terutama yang terjadi di Universitas Gadjah Mada.Perlu diingat pula, pada masa-masa itu kebanyakan
naskah teater yang dimainkan di atas panggung adalah naskah-naskah
realis, yang menurut Rustandi Kartakusuma, merupakan sesuatu yang lebih
muncul sebagai "bacaan", yang seolah mengharuskan penonton atau pembaca
untuk melakukan "analisis".Dengan demikian, relasi yang terbangun antara kelompok
teater ini dan publiknya, lagi-lagi meminjam istilah Goenawan Mohamad,
bukan relasi yang intim, melainkan sesuatu yang sepenuhnya hasil
konstruksi. Kebanyakan pelaku dan institusi
lain yang terlibat dengan teater telah mengonstruksi bayangan dan
gagasan tentang publik tanpa melakukan usaha membuat gagasan tentang
publik yang abstrak tersebut menjadi sesuatu yang konkret.