Repertoar Karno Tanding karya Bono–-demikian ia biasa
dipanggil-Oktober 2003 dipentaskan keliling di negeri Belanda dan
Italia, dan mendapatkan sambutan bagus dari khalayak.
Repertoar berdurasi 1,5 jam ini disebut "wayang multimedia" karena
lebih berbentuk teater modern yang menggunakan elemen-elemen wayang dan
bahasa Indonesia.Karya kolaborasi ini mengalami proses perdebatan
intensif di antara seniman yang terlibat maupun pihak sponsornya, yaitu
Pemerintah Belanda, dan produsernya Robert van de Busch. Saat dipentaskan keliling di negeri Belanda, Maret 2004, sambutan publik luar biasa, dan banyak yang tak kebagian tiket masuk.
Repertoar Lingga-Yoni, Karno Tanding, juga Saidja dan Adinda,
mengukuhkan konsep estetik dan kreativitas Bono yang tidak lagi
terbatasi oleh latar belakang
kesenian tertentu. Keterampilannya di bidang karawitan inilah yang
membuatnya "menyimpang" dari
tradisi mendalang (sejak usia 12 tahun ia
mendalang) karena ia kemudian hari lebih dikenal sebagai pengrawit dan
penyusun gending.
Ketika ia belajar di ASKI Solo (1976), saat itu ASKI dan Pusat Kesenian
Jawa Tengah di Solo menjadi pusat pusaran semangat pembaruan atas
kesenian Jawa yang dimotori Gendon Humardani.Seperti sistem yang berlaku di dunia seni tradisi
Jawa, ia mengaku tak mendapatkan honor khusus atas gending iringan
pedalangan yang disusunnya.
Ringkasan lain tentang B Subono, Penyimpangan Seorang Dalang