Pembangunan dan Penguatan Kebudayaan Jatim
JIKA seseorang berkunjung ke suatu negara atau
kota, ia akan bertanya
bukan hal-hal yang sudah dikenal lumrahnya seperti di negara/ kotanya
sendiri,
tetapi ingin tahu dan mengalami perihal yang unik, spesifik,
dan khas negara/kota yang dikunjungi itu.Dari Surabaya Sentral ke utara, sebelum Jalan Ambengan
menanjak naik tidak melindas jalan raya, tetapi melintas di atasnya
menyusuri rel layang atau EL (elevated rail), seperti dari Manggarai
menanjak naik ke Cikini dan melayang ke Jakarta Kota.
Tetapi, benda-benda
dalam museum sangat khas dan
merupakan bahan mentah bagi studi dan riset.
Museum Negeri Jawa Timur, di Jalan Raya Darmo,
Surabaya, yang akan dipindahkan ke gedung yang lebih luas, di pintu
utara masuk Kota Sidoarjo, merupakan general museum, maka koleksi
artefaknya perlu ditambahi dan dilengkapi serta diperkaya lagi, untuk
menggambarkan manusia dan lingkungan Jatim yang kaya raya kreasi
seni-budaya dan peradabannya.Berbeda fungsi dengan Museum Negeri Jatim, yang
bersifat general, umum, maka Museum Surabaya
sebagai perekaman dan
representasi sejarah kawasan Surabaya, sejak zaman prasejarah sampai
kini, merupakan museum sejarah (museum of history) dengan konsep
sebagai "biografi" Surabaya, dan memiliki elemen sejarah-sosial. Galeri
Jika di Jakarta, sebagai Ibu Kota negara, dilembagakan sebuah bangunan
yang menyimpan, menghimpun, dan memamerkan secara permanen karya-karya
seni rupa dalam apa yang disebut Galeri Nasional, maka di Surabaya
perlu dibangun lembaga dan gedung sebagai Galeri Jawa Timur, sejenis
museum khusus untuk karya seni rupa.Di setiap kabupaten atau pemerintah kota perlu juga
dibentuk dewan kesenian, dan hubungannya dengan DK Jatim bukan
hierarkis, tetapi lebih pada hubungan koordinasi, terutama dalam
program kerja, sehingga seluruh dewan kesenian se-Jatim merupakan
jaringan kerja dan lembaga yang saling tukar pengalaman dan rancangan
dalam mengelola kegiatan kesenian-kebudayaan.
Ringkasan lain tentang Pembangunan dan Penguatan Kebudayaan Jatim