• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Jejak Realisme dan Individualisme yang Mengendur

.

Jejak Realisme dan Individualisme yang Mengendur

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : BENNY YOHANES
Teater Realisme, sebagai sarana kritisisme publik,
dapat memiliki peran sosial yang menguat saat teater dapat juga

menemukan posisi realistiknya di tengah masyarakat, yakni dengan
mengelola fungsi estetik, sosial, dan profesional teater secara lebih
seimbang. Visualisasi pertunjukan yang realistik ditinggalkan
karena yang lebih substantif dalam teater Rendra bukan lagi elemen
estetikanya, tetapi lebih pada "isu-politik"-nya, yang sering kali
harus diucapkan secara pamfletis dan "panas".Putu memperkenalkan tokoh-tokoh anonim, latar
peristiwa tanpa identifikasi tempat dan waktu, menggunakan elemen
parodi dan humor hitam, serta diksi yang eksplosif seiring dengan
pemunculan spektakel dan teatrikalitas skeneri, yang sepenuhnya
bersifat kontras dan asing dengan dunia realistik sehari-hari. Namun, pentas Gandrik toh tak memperlihatkan ikatan
yang fanatik pada Realisme karena pentas Gandrik juga bergerak dinamis
antara revitalisasi ketoprak yang stilatif dan misi pencerdasan publik
yang juga mementingkan unsur diskursus tertentu bagi teaternya.Bentuk stylized realism yang kemudian dikembangkan
dengan pendekatan opera menghadirkan jenis tontonan yang kompatibel
dengan kebutuhan penonton kota: sebuah model tuturan politis tanpa
afirmasi politik (guyon parikeno) dan dengan menyajikan satu tingkat
kepuasan visual dan efek gebyar dalam olah-panggungnya, yang berfungsi
sebagai pengikat identitas bersama antarpenonton metropolis.
Strategi ini telah memungkinkan Teater Koma dapat memanfaatkan sisi
realisme, yakni lingua franca masyarakat kota, untuk menjaga relasi
yang familiar dengan pengalaman publik, sekaligus menaburkan sensasi
optik yang memikat di atas panggung, sebagai alat hipnosis yang paling
realistik bagi psikologi penonton kota. Dari situ, kita menangkap model psikologi manusia
marjinal Jawa yang hendak diperlihatkan Kenthut: bahwa komunikasi dan
konflik dengan orang lain selalu menjadi cara menemukan biografi kita
yang sesungguhnya, menelanjangi kepalsuan kita, dan membuka rahasia
agar kita berani menjadi setara untuk menemukan kosmos kemanusiaan itu.
Diterbitkan di: Oktober 05, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.