Fenomena teater modern di (sejumlah kota besar) Indonesia adalah fenomena reklamasi biografi. Teater adalah altar kultivasi,
di mana pengorbanan
pribadi dan kedaruratan fasilitas justru jadi ’jalan ritual’ untuk
pemadatan biografi pelaku-pelakunya.Itu sebabnya konsep-konsep kreatif di dunia teater selalu berkumpar
pada keunikan dan ekspresivitas konsep-konsep personal, sebuah
self-confession dari dapur biografisnya; dan bukan dimanifestokan dalam bentuk konseptualisasi akademis, yang argumentatif dan sistemis. Dindon-Kubur, melakukan reintegrasi identitas atas
realitas faktual Kober, fleksibilitas dan fragmentasi narasi dari
komunitas marjinal, dan ramuan estetik teaternya
menunjukkan proses
migrasi
sublimatif atas biosfir sosial Kober yang diserapnya.
Dalam konteks membaca paradigma kreasi teater seperti di atas, narasi
kritik tertantang untuk menunjukkan sensitivitas reseptifnya, dengan
cara menunjukkan bahwa: di belakang setiap kreasi teknis teater,
sebenarnya melekat pula kreasi sublimatif lain, yang bekerja di luar
kategori pencapaian ’bagus’ dan ’tidak bagus’.
Kreasi sublimatif ini adalah wilayah ritual biografis kreatornya, yaitu
peristiwa interface antar sang multi-aku dalam diri, di mana
kepercayaan atas penemuan adaptif dan self-confession akan lebih
berperan daripada pencapaian kesempurnaan teknis semata.Proses reklamasi biografis adalah denyut dari dunia
multi-aku, dunia migrasi dan reintegrasi, yang tengah membangun
koneksi-koneksi alkemisnya terhadap medan biosfir sosial yang diserap
kreator. Kritik adalah tulisan alkemis, di mana pengalaman
reseptif yang dibangun kritikus, sekaligus menunjukkan kualitas
interpose kritikus, dalam upayanya untuk terus membaca peristiwa teater
dalam dua jejak alkemisnya, yakni antara kreasi teknis dan kreasi
sublimatif teater. Dengan kata lain, kritik
alkemis adalah hasil pembacaan silang yang makin intensif dan sensitif
antara realitas Aku-teknis dan kehadiran senyawanya, yaitu Multi-aku
sublimatif.