Sangatlah menggembirakan mendengar kabar terbitnya
buku kumpulan
drama Mas Ruscita Dewi berjudul ''''Rumah Bunga''''.
Di tengah sepinya minat terhadap
naskah drama atau naskah lakon, tentu
saja penerbitan buku kumpulan drama ini pantas diacungi jempol.Apabila dirujuk pengertian
teater modern dan teater
tradisional di Indonesia, salah satu unsur pembeda yang utama adalah
ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Jamak diketahui bahwa
teater tradisional menjumpai publiknya berdasarkan cerita yang
berkembang di tengah masyarakat (sastra lisan), kemudian dimainkan
dengan tingkat spontanitas dan improvisasi yang tinggi.
Sebaliknya, teater modern -- meminjam ungkapan Goenawan Mohamad (1981)
-- memiliki ''''kerangka situasi'''' berupa naskah drama yang menempatkan
kerja artistik dan produksi teater
tidak sekadar improvisasi.Selain itu, kecenderungan kelompok teater di Indonesia
yang lebih memilih naskah asing (terjemahan, saduran) daripada naskah
asli secara tidak langsung ikut memunculkan krisis naskah drama
Indonesia. Hal ini pernah dibicarakan dalam diskusi tentang
''''naskah pribumi'''' yang diadakan Yayasan Senthong Seni Bangunjiwa
Yogyakarta, bulan April 2002 yang menghadirkan Heru Kesawa Murti,
Hanindawan dan Dra. Yudiaryani, MA, sebagai pembicara.
Dalam diskusi tersebut terungkap antara
lain bahwa dramawan kita belum
sepenuhnya bebas dari rasa phobi yakni menganggap naskah asing lebih
''''agung'''' daripada ''''naskah pribumi'''', di samping faktor lain seperti
kurangnya media publikasi bagi naskah drama serta mulai renggangnya
''''tegur-sapa'''' antara
sastra dan teater.Nama-nama seperti Putu Wijaya, N. Riantiarno, Arifin C.
Noer, Wisran Hadi, Saini KM, WS Rendra, Mohamad Diponegoro dan
lain-lain, merupakan sastrawan dan sekaligus dramawan, tidak saja
karena mereka pendekar di dunia sastra, serta memiliki grup teater yang
aktif, akan tetapi juga dikarenakan karya-karya drama mereka memiliki
orientasi panggung yang kuat.Begitu pula majalah dan jurnal sastra yang terbit di
Indonesia, seperti Horison dan Kalam, memang sesekali memuat naskah
drama Indonesia, namun itu sangat jarang terjadi.
Ketika media sastra memasuki babak baru dengan maraknya penerbitan buku
(sastra), khususnya prosa yang konon cukup laku di pasaran, naskah
drama tetap tak punya ruang sosialisasi.
Sesekali naskah drama memang terbit juga sebagai buku, sebagaimana
dilakukan Penerbit Angkasa (Bandung) dan Yayasan Untuk Indonesia
(Yogyakarta), tetapi tidak sebanding dengan buku cerpen dan novel.
Dalam hal ini alasan pasar sering menjebak bahkan sudah menjadi sangat
klise, padahal apa pun alasannya, ketiadaan media sosialisasi bagi
naskah drama berarti adalah kemunduran.
Menurut Jakob Sumardjo (1992), kuatnya tradisi teater tradisional
Indonesia yang tidak mengenal naskah drama menjadi salah satu penyebab
kurang dikenalnya drama sebagai teks (sastra), kecuali sebatas
pertunjukan semata.
Ringkasan lain tentang ''Menonton'''' Naskah Lakon Mencari Ruang