Meskipun tokoh-tokoh "pemberontak" yang ditampilkan
bergelut
dalam latar konflik yang khas Indonesia, tesis dasar yang
menyemangati naskah-naskah
realisme awal Indonesia adalah tipikal
individu-modernis Eropa, yakni: manusia yang meneguhkan sosok
eksistensinya,
dengan dasar moralitas dan keyakinan individual yang
merdeka. Individu-individu yang muncul dalam
naskah realisme Indonesia dari sejumlah pengarang di atas, menampilkan
dorongan individualisme yang kuat, visi pribadi yang antihipokrisi,
berani berjuang dengan risiko, mengedepankan persepsi harga-diri yang
tinggi. Dengan kata lain, manusia Indonesia
yang muncul dalam naskah realisme awal adalah jenis manusia optimistis,
namun
menjadi tragis sekaligus, karena dihadapkan pada dunia eksternal
yang anti-individu.Gaya diksi yang dipilih para pengarangnya, selalu
menampilkan konfrontasi pikiran yang diametral, antara komplotan yang
hipokrit dan kompromis berhadapan dengan
individu yang idealis dan
eksplosif. Yang menjadi gejala menarik dalam
naskah realisme awal di Indonesia (khususnya di Jawa) adalah
teater diskursus itu, yang menjadi jiwa teater realisme, disuguhkan dalam
bahasa Indonesia yang berkarakter, bahasa yang menggugat, dan menjadi
ekspresi linguistik yang sama pentingnya dengan kandungan pikiran si
tokoh. Jadi, dalam teater realisme awal
Indonesia, penampilan bahasa Indonesia sebagai diksi-dramatik, tampak
menjadi penanda yang vital bagi konsep realisme itu sendiri. Optimisme dalam teater realisme awal Indonesia adalah optimisme untuk berbahasa Indonesia.
Hal ini dapat dimengerti sebab tantangan eksternal yang dihadapi para
pengarang periode tahun ’50/’60-an itu adalah bahwa ruang bagi
ideologisasi dan peneguhan moralitas Indonesia yang sedang dicari itu,
dapat menjadi tajam dan terfokus, terutama lewat artikulasi berbahasa. Populernya praksis teater realisme Stanislavskian
telah memungkinkan terjadinya akses yang lebih akseleratif bagi tradisi
teater modern Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan progresi teater
Eropa dan Amerika yang berkembang saat itu.
Ringkasan lain tentang Ambiguitas Teater Realisme di Indonesia Teater Nasionalistis & Pseudo-Eropa