Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Ambiguitas Teater Realisme di Indonesia Teater Nasionalistis & Pseudo-Eropa

Ambiguitas Teater Realisme di Indonesia Teater Nasionalistis & Pseudo-Eropa

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : BENNY YOHANES
ª
 
Meskipun tokoh-tokoh "pemberontak" yang ditampilkan bergelut dalam latar konflik yang khas Indonesia, tesis dasar yang menyemangati naskah-naskah realisme awal Indonesia adalah tipikal individu-modernis Eropa, yakni: manusia yang meneguhkan sosok eksistensinya, dengan dasar moralitas dan keyakinan individual yang merdeka. Individu-individu yang muncul dalam naskah realisme Indonesia dari sejumlah pengarang di atas, menampilkan dorongan individualisme yang kuat, visi pribadi yang antihipokrisi, berani berjuang dengan risiko, mengedepankan persepsi harga-diri yang tinggi. Dengan kata lain, manusia Indonesia yang muncul dalam naskah realisme awal adalah jenis manusia optimistis, namun menjadi tragis sekaligus, karena dihadapkan pada dunia eksternal yang anti-individu.Gaya diksi yang dipilih para pengarangnya, selalu menampilkan konfrontasi pikiran yang diametral, antara komplotan yang hipokrit dan kompromis berhadapan dengan individu yang idealis dan eksplosif. Yang menjadi gejala menarik dalam naskah realisme awal di Indonesia (khususnya di Jawa) adalah teater diskursus itu, yang menjadi jiwa teater realisme, disuguhkan dalam bahasa Indonesia yang berkarakter, bahasa yang menggugat, dan menjadi ekspresi linguistik yang sama pentingnya dengan kandungan pikiran si tokoh. Jadi, dalam teater realisme awal Indonesia, penampilan bahasa Indonesia sebagai diksi-dramatik, tampak menjadi penanda yang vital bagi konsep realisme itu sendiri. Optimisme dalam teater realisme awal Indonesia adalah optimisme untuk berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dimengerti sebab tantangan eksternal yang dihadapi para pengarang periode tahun ’50/’60-an itu adalah bahwa ruang bagi ideologisasi dan peneguhan moralitas Indonesia yang sedang dicari itu, dapat menjadi tajam dan terfokus, terutama lewat artikulasi berbahasa. Populernya praksis teater realisme Stanislavskian telah memungkinkan terjadinya akses yang lebih akseleratif bagi tradisi teater modern Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan progresi teater Eropa dan Amerika yang berkembang saat itu.
Diterbitkan di: 05 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.