• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>FSS Motivasi Menuju Teater Umum

.

FSS Motivasi Menuju Teater Umum

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : ENDANG W RAMLI
Menurut penelitian Viddy Alimachfoed Daery, guna
meraih gelar sarjana ilmu sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

(FISIP) Universitas Airlangga Surabaya, kelemahan pada tiga masalah
itulah yang akhirnya membuat kondisi teater di Surabaya pasca-Akhudiat
dan Basuki Rakhmat semacam kehabisan akal untuk merumuskan kembali
persoalan-persoalan yang muncul di sekitarnya.Selain itu, ada Teater Roda dari Lamongan, Teater
Cengkir dari Surabaya, Teater Kusuma Surabaya, dan Teater Hampa dari
Malang (Kompas, 19 Mei 2003).
TAHUN 1970-an, muncul Rendra dan sekaligus menggebrak dunia teater di
Indonesia. Kemunculan Renda bersama Bengkel Teater-nya kemudian menjadi
tren bagi arah perkembangan teater modern di Indonesia. Di Surabaya,
nama-nama dramawan sisa tahun 1950-an kembali aktif, main serius.
Keseriusan itu akhirnya juga merangsang barisan pekerja teater mudanya,
seperti mereka yang tergabung dalam Teater Aksera yang dikomandani Hari
Matrais.
Agaknya, karena pengaruh yang begitu dahsyat dari masa itu, di Surabaya
kemudian mulai bermunculan festival teater dan lomba-lomba teater.Memang beberapa orang muda yang berwawasan cukup,
paling tidak referensinya berkiblat pada grup-grup teater di Jakarta,
tidak berusaha menggali idiom teater dari teater rakyat atau teater
tradisional yang ada di Jawa Timur atau Surabaya sendiri yang
semestinya lebih mereka akrabi.
Disebabkan grup-grup itu, baik yang cukup baik
wawasannya maupun grup pemula, lebih suka mengambil bentuk teater
modern-absurd tanpa ada yang berusaha memahami konsepnya dengan benar,
maka grup-grup itu pun segera menjadi barang etalase yang hanya bisa
ditonton masyarakat Surabaya tanpa bisa dimengerti.
Teater pun terpecah dalam dikotomi yang jauh jaraknya: teater rakyat
tradisional dan teater rakyat modern (seperti Srimulat) dianggap cocok
dengan penonton awam, sedang teater modern hanyalah santapan
seniman-seniman saja.
Hingga di sini, belum ada ikhtiar pembedahan-penerobosan dikotomi yang
kaku itu, seperti yang dilakukan oleh Teater Koma di Jakarta dan Teater
Gandrik di Yogyakarta di belakang hari: teater elite sebagai tontonan
semua lapisan masyarakat.
Diterbitkan di: Oktober 05, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.