Sang
aktor diam di tengah kolam kecil berisi lumpur
lalu mulai menggerakan tangannya setelah itu mulailah bertutur tanpa
mencoba menjelaskan
dengan tubuhnya apa yang sedang dituturkanya hanya
memainkan mimic wajah dan gerakan tangan yang stagnan seperti sedang
menari.Kerja aktor
adalah meyakinkan penonton bahwa tokoh
yang sedang dimainkannya adalah tokoh sesungguhnya yang lain dari tubuh
aktor sendiri hanya saja Latif, sekali lagi, masih bisa dikenali
sebagai Latif ketika memainkan monolog tersebut. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama
berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.” Begitu kata Asrul
Sani melihat perkembangan
teater di Indonesia.
Sungguh, hal itu terngiang lagi hari ini karena ternyata permasalahan
lama itu muncul kembali, bahwa teater modern Indonesia merupakan teater
yang didirikan dengan tradisi pemusatan kuasa pada corak badan dan
pikiran sang sutradara.
Padahal yang perlu dikembangkan adalah paradigma
pempribadian, di mana tradisi kerja kolektif dalam teater harus
dimaknai sebagai fasilitas bersama untuk terberdirikannya proses
emansipasi lintas pribadi
atau menjadi tempat belajar bersama semua
individu yang terlibat dalam teater tersebut.Kalaupun toh kemudian ada yang memilih teater sebagai
jalan, yang muncul kemudian adalah teater yang hidup dengan semangat
memperbaharui yang terus-menerus dengan segala pencarian bentuk
kreatifnya sebagai bahasa visual.Maka tidak penting lagi dipertanyakan, teater
sutradara atau teater aktor yang muncul, atau malah teater naskah,
karena ternyata naskah yang tertulis
lebih kuat dibanding aktor atau
sutradaranya, misalkan. Semuanya telah selesai ketika itu didiskusikan dan digodok hingga menjadi sebuah ide bersama yang lebih matang dan jelas.
Dalam teater seperti itu, keberagaman bentuk lebih berkemungkinan untuk menemukan semangat dan hidupnya.
Dengan sendirinya, hal itu akan lebih memperkaya perkembangan teater
modern Indonesia yang sudah memilih untuk melupakan masa lalunya dan
menciptakan sejarah dan tradisinya sendiri.
Ringkasan lain tentang Teater Yang Mencoba Mencipta Tradisinya Sendiri