• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Penonton Baru Teater Indonesia

.

Penonton Baru Teater Indonesia

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Radhar Panca Dahana
Orang-orang frustrasi berdasi, dengan sekian waktu yang sepi, di sekitar Cikini, yang punya anggaran (menonton) teater sendiri?

Pertanyaan yang pernah saya tuliskan dalam sebuah artikel di harian Ibu
Kota, lebih dari 20 tahun lalu, menanggapi Temu Teater 1984, itu kini
masih terasa menggaung. Terutama saat mengikuti upacara (tradisional
yang kini pun menjadi ritus modern) bersama, menikmati sebuah
pertunjukan.
Terlebih yang serba wah, megah, meriah, dan sangat tidak murah, seperti
pentas drama I La Galigo, di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia
Indah, beberapa waktu lalu.
Pertunjukan yang disutradarai oleh salah satu sutradara terkemuka dunia
dalam tiga dekade terakhir ini, di samping Peter Brook dan Ariane
Mnouchkine itu, berhasil menyedot pengunjung yang memenuhi empat kelas
kursi di gedung berkapasitas 1.000 orang itu.
Dan lihatlah mereka yang masih saja berdatangan biarpun sudah
setengah jam pertunjukan dimulai sebagian besar adalah wajah-wajah
asing bagi publik teater yang selama ini kita kenal.Dalam durasi tiga jam, pertunjukan (tanpa jeda) ini
menyodorkan komposisi dari gerak, blocking, musik, panggung, dan tata
lampu yang telaten, rapi, indah, dan (terutama untuk yang terakhir)
mengesankan.
Namun, jika dipertimbangkan dengan apa yang pernah dilakukan oleh
seniman Indonesia, baik tari, teater, atau musik, semua terasa biasa,
karena seniman macam Rendra, Putu, Boi G Sakti, atau Rahayu Supanggah
sendiri (yang mengisi musik pertunjukan itu) pernah berbuat lebih dari
itu.Dengan akibat, seperti dinyatakan Roland Barthes, Sang
aku yang mendekati teks sebenarnya adalah juga kemajemukan dari teks,
kode yang tak terhingga, dan lebih tepat lagi, (pada dasarnya) lenyap.
Sejak awalnya, penonton itu tiada. Yang ada adalah teks bertemu teks, dan kerja sama atau konflik dalam merebut atau menciptakan makna.
Maka, jika kesetiaan diharapkan dari publik yang elite ini, dia bukan
lagi loyalitas berdasarkan preferensi artistiknya. Tapi lebih pada
atribut-atribut sosio-politis apa yang ada pada pentas tersebut.
Ini mungkin kenyataan yang merisaukan, bahkan mentah-mentah ditolak
oleh sebagai seniman romantis.
Namun, perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi mediatik dan
industri massal, telah menempatkan kesenian dalam posisi yang sama
dengan mass product lainnya.
Diterbitkan di: Oktober 05, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.