SUATU hari pada September yang baru lalu seorang kawan
di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta bertanya, “Bagaimana kabarnya STB
setelah tidak ada lagi Suyatna? Masih ada kan?”
Pertanyaan
itu terasa mengejutkan karena membayangkan sesuatu di
belakangnya, yaitu semacam kepercayaan bahwa sepeninggal Suyatna Anirun
(1936-2002) Studiklub
Teater Bandung (STB) akan bernasib sama dengan
apa yang terjadi pada Teater Ketjil setelah sepeninggal Arifin C. Noer atau Teater Populer sepeninggal Teguh Karya.
Kedua kelompok teater yang
menjadi penanda penting dalam perkembangan
teater modern Indonesia itu memang nyaris bisa disebut sudah tak ada
lagi, menyusul wafatnya sosok yang menjadi patron dan tokoh mereka,
Arifin C. Noer dan Teguh Karya.Hal itu paling tidak telah dilakukan sejak peringatan
40 hari wafatnya Suyatna Anirun di GK Rumentang Siang Bandung, bahkan
sebuah kepanitiaan pun dibentuk untuk merealisasikan sejumlah program,
di antaranya ketika itu penerbitan buku Kumpulan Catatan Budaya Suyatna
Anirun yang diterbitkan oleh Etnoteater dan rencana pendirian sebuah
museum di lantai III GK Rumentang Siang.
Barangkali harus diusulkan pendirian sebuah museum
yang lebih representatif sebagai sebuah museum teater, baik itu teater
tradisi dan daerah, teater modern ataupun teater kontemporer, dengan
nama Museum Suyatna Anirun,” kata Yayat Hendayana.Kenyataan ini menjadi sesuatu yang bisa dipahami,
sebab di lain sisi tradisi teater di Bandung tidaklah hadir dengan
aktor-aktor yang menjadi anggota tetap sebuah kelompok teater. STB adalah keinginan untuk masih akan terus hadir
dalam jagat teater Indonesia modern yang telah dirintisnya 58 tahun
yang lalu, seraya juga memaknai perubahan yang terjadi.
Ringkasan lain tentang TB, 1.000 Hari Setelah Suyatna Wafat