Beberapa tahun lalu, seorang
pekerja teater, yang juga
dikenal sebagai penyair, Sosiawan Leak, pernah berkata bahwa dirinya
sedang suntuk melakukan semacam konsolidasi
publik teater modern di
Solo (
Taman Budaya Surakarta). Ia pun
memprakarsai pertunjukan teater yang telah ”mapan”
dengan teater kampus
dan teater sekolahan secara bergiliran di hari yang sama.
Maksudnya agar publik teater yang sudah ”mapan” dan publik teater
kampus atau teater sekolahan bisa bersama-sama hadir untuk menonton
semua penampilan teater.Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa semua pekerja
teater modern di Indonesia memerlukan lahan profesi di bidang lain
untuk menghidupi diri dan keluarganya kalau tidak ingin mati kelaparan!Dalam hal ini, membangun taman-taman budaya di semua
provinsi, tanpa mengadakan semacam kompetisi seni (teater), ternyata
tidak cukup, dengan bukti betapa banyak taman budaya yang selalu nyaris
sunyi tanpa agenda kesenian yang kontinu dengan skala besar (nasional).Dan biasanya, para pekerja teater di daerah pun
kemudian bersedia ambil bagian dalam festival kesenian yang ada, meski
dengan pengorbanan total, tanpa mendapatkan imbalan yang layak! Dalam hal ini, setiap kelompok teater terbaik di
masing-masing provinsi bisa mengontrak pekerja-pekerja teater yang
dapat bermain dengan bagus. Dengan demikian, dunia teater modern akan berkembang
pesat,
menjadi bagian dari dunia hiburan yang lebih bergengsi, di mana
pemain-pemainnya akan menjadi bagian dari hiruk-pikuk dunia selebritis
yang bermobil mewah dan punya rumah megah. Begitulah.
Dan sayang sekali, jika semua itu hanya menjadi anyaman kata-kata
utopia belaka yang sia-sia, karena dianggap mustahil menjadi kenyataan
di Indonesia.
Ringkasan lain tentang Konsolidasi Publik Teater Modern, Siapa Peduli?