Catatan Pementasan Teater "Malinkundang"
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
188
kata:
300
Diterbitkan di: September 23, 2007
Membicarakan
naskah dalam pementasan teater (menurut saya) adalah sebuah kekonyolan.
Naskah telah putus hubungan dengan pengarangnya, dengan konsistensi
berbagai dialognya. Yang diusung dengan demikian adalah spirit, dengan
mengurai benang merah yang ingin disampaikan oleh pengarang.
Demikianlah, naskah "Malinkundang" karya Wisran Hadi kemudian
dipentaskan oleh Gaung Ekspose pada Festival Teater se-Sumbar 2007, di
Taman Budaya Sumatra Barat, pada malam ke-4, 26 Agustus 2007, oleh
sutradara Anita Dikarina.
Pementasan menceritakan kisah Malinkundang yang menutut tahu
keberadaannya ayahnya. Ayahnya yang telah kabur, karena sakit hati
rumah mereka digadaikan oleh mamak si Malin. Malin menuntut tahu dari
sang ibu. Ibu yang dahulu pernah mengutuknya menjadi batu. Si Malin
kemudian merantau mencari ayah. Dalam pengembaraannya, Malin sempat
bercinta dengan beberapa orang wanita dan membuahinya. Salah satu buah
hasil percintaan itu kemudian tumbuh dewasa di panti yatim-piatu, dan
menjadi seorang penyair, yang diidentifikasi sebagai Malinkundang zaman
ini.
Pementasan naskah yang mengedepankan konsep
penceritaan kaba—si Malin yang menceritakan kaba dirinya. Peristiwa
demi peristiwa bergulir dalam pementasan naskah itu. Alur mengalir
datar. Seperti laiknya kaba, pementasan dibuka dengan monolog (pantun
pembuka) si penyair atau Malinkundang kini (M Arsyad). Kemudian ditutup
dengan monolog yang mencoba sedikit berkomedi. Pentas usai, lampu
dipadamkan.
Kemudian apa yang patut dibicarakan dalam pementasan itu?
Nurul Fahmy, Pesan Sponsor Dalam Lakon Malinkundang
Artistik panggung?
sumber: www.ranah-minang.com/tulisan/381.html
Panggung dibuat semacam ruang bebas. Pemain boleh mengganti-ganti
setting sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang akan dihadirkan.
Artistik properti dipertegas dengan pencahayaan dari depan dan belakang
panggung, memunculkan kesan samar dan siluet, berupa bayang-bayang.
Beberapa buah tiang yang dirangkai persegi panjang dengan kaki-kaki
serta tabir-tabir sebagai penyekat dimanfaatkan untuk berbagai setting:
rumah, kapal, dan sebagainya. Bisa diseret-seret. Bisa digeser-geser.