Dari tanggal 21 Agustus hingga 1 September 2007 ini saja, setidaknya ada 14 naskah yang dimainkan oleh 15 kelompok teater
dalam rangkaian Festival
Teater Sumbar 2007 di Gedung Teater Taman Budaya Sumatera Barat. Tiga belas di antaranya adalah kelompok teater yang ada di provinsi ini: Satu kelompok (Teater Dayung Dayung) mementaskan “Tribute to A. Alin De” Drama Penghabisan naskah/
sutradara karya A. Alin De—Almarhum meninggal dunia tiga hari sebelum garapannya dipentaskan—dua belas lainnya adalah peserta festival. Dua kelompok lagi adalah guest-star exhibition (parami alek), satu dari Batam dengan Teater Rumahitam yang mengusung lakon Adegan-adegan yang Tak Selesai di Rumahitam, dan satunya lagi dari Jakarta, Teater Keliling dengan Komidi Don Juan.
Berhentilah sebentar membicarakan kualitas pementasan, karena ada dewan juri yang berwenang untuk itu. Ada Wisran Hadi di sana, ada Dindon, dan ada Rudolf Puspa dari Jakarta. Lantas apa yang menarik dari festival yang memperebutkan total hadiah jutaaan rupiah itu? Beberapa kawan mengatakan bahwa festival ini berpengaruh terhadap pertumbuhan teater, jumlah peserta festival yang cukup banyak ditambah antusias khalayak penonton merupakan indikator bahwa di kota ini teater tak ada matinya. Benarkah?
Hari pertama festival dibuka oleh Teater IAIN Imambonjol, dengan naskah Penjara Waktu karya Marhalim Zaini, Sutradara Heri Soerikno. Kemudian disusul oleh Ranah Teater, Sutradara S. Metron M, yang menggarap naskah Gua, adaptasi dari dua naskah Wisran Hadi, Jalan Lurus dan Kebuntuan serta satu naskah Kamar karya Yusril, dkk.
Hari kedua pementasan oleh Teater Rumah Teduh yang memainkan naskah Bius karya Beni Yohanes, Sutradara Ika SH, disusul kemudian oleh Komunitas Seni Pertunjukan (KSP) Ku-liek Kampus Selatan yang mengangkat naskah Hanya Satu Kali karya Jhon Gallswothy/Robert Midelsman dengan Sutradara Zal Masri.
Hari ketiga oleh Teater Size, naskah Taman karya Iwan Simatupang, Sutradara Zamzami Ismail, yang dilanjutkan oleh Teater Cabang, naskah Kereta Kencana Eugene Ionesco, Sutradara Zelfeni Wimra.
Nurul Fahmy, Spirit Solidaritas Dalam Ranah Kebudayaan
Hari keempat, kelima dan keenam selanjutnya diisi masing-masing oleh dua pementasan. Teater Ku-Liek naskah Malam Jahanam Motinggo Busye, Sutradara Ath Thariq dan Gaung Ekspose, naskah Malin Kundang Wisran Hadi, Sutradara Anita Dikarina. Teater Bunga Pakis dengan lakon Siulan Gadis Minang karya/Sutradara Martini, dan Komunitas Seni Intro, naskah Pencucian karya David Guerdon, Sutradara Della R Nasution, serta Teater Imaji dengan lakon Cabik naskah karya/Sutradara M Ibrahim Ilyas, dan KSST Noktah, naskah Malam Jahanam Motinggo Busye, Sutradara Zulfikri Sasma.
sumber: www.ranah-minang.com/tulisan/383.html