Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Ketika Sumatra Barat Tidak Lagi Menjadi "Industri Otak"

.

Ketika Sumatra Barat Tidak Lagi Menjadi "Industri Otak"

Summary rating: 4 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Silfia Hanani, Msi
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 132
kata: 300
Diterbitkan di: September 12, 2007
Membaca
Berita Padang Ekspres Selasa(10/5/2005) yang berjudul "Sumbar Tidak
Lagi Industri Otak", jelas sekali tulisan tersebut menayangkan narasi
kekalahan pendidikan di negeri bertuah Minangkabau ini. Dulu
disebut-sebut sebagai negeri mesin pencetak "otak" yang telah banyak
melahirkan para pemikir dan intelektual yang kridibilitas dan
loyalitasnya telah diakui lintas wilayah. Oleh sebab itu, Minangkabau
dalam kerangka intelektual dan kecerdasan sudah populis di mana-mana.
Kepopulisan kecerdasan orang Minang tersebut diiringi pula oleh pola
migrasi (merantau) dalam kontek "penyebaran" peradaban. Kondisi ini
semakin meyakinkan "bumi serantau" menempatkan Minangkabau sebagai
tempat yang tepat untuk "mengaji" menuntut ilmu.
 Tapi kini, kondisi itu agak berputar hampir 180 derajat. Minangkabau
tidak ada istimewanya ditilik dari perpsktif keintelektualan yang
global. Pendidikan di Sumatera Barat, berjalan ditempat, sepak terjang
kualitinya tidak mendarah daging dalam membangkit batang terandam,
kandas sudah (the end of historiy), sekali pun di sini berdiri
gedung megah Universitas Andalas (tercantik dan terindah di Asia
Tenggara), kemudian diiringi dengan IKIP menjadi Universitas Negeri
Padang (UNP), seterusnya diimbangi oleh perguruan tinggi agama sebagai
garda penjaga syarak “ IAIN Imam Bonjol Padang dan STAIN di dua tempat
Batusangkar dan Bukittinggi, diikuti pula oleh menjamurnya Perguruan
Tinggi-Perguruan Tinggi swasta hadir menawarkan beragam program
pendidikan, tapi alhasil, semuanya itu, belum signifikan untuk
mendongkrak masyarakat Sumtera Barat terdidik serta belum mampu menjadi
sebuah industri yang mencetak brilianitas-brilianitas yang dihandalkan
sebagai komuniti transformatif.
Apa dan siapa yang salah?
Meminjam konsep sosiolog Emile Durkehim, yang salah adalah lini yang
anomie, system yang kacau dan tidak konsistem. Semua berada dalam alur
kejar mengejar yang tidak berada dalam garda aturan yang jelas,
sehingga pendidikan pun dibawa oleh kawah yang tidak jelas tersebut.
Ketika inilah pendidikan tidak berdaya menjadi alat transformasi di
negeri kita. Hanya berada didalam jubah kekuasaan, sehingga hari demi
hari yang dapat kita dengar perbanjangan deretan pengangguran.
Sumber: www.ranah-minang.com/tulisan/158.h
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.