Perlu
dicatat,
bahwa perkembangan Islam, di Nusantara khususnya, mempunyai
keterkaitan dengan aset lokal. Aset lokal menjadi mediator dan
sekaligus menjadi pusat kegiatan ke-Islaman. Di Minangkabau, aset lokal
yang paling strategis dipergunakan dalam penyebaran agama
ini adalah
surau.
Awalnya surau bagi masyarakat Minangkabau
sebagai tempat penyembahan
arwah nenek moyang. Fungsi ini berlangsung cukup lama, bahkan
diperkirakan sampai pada Islam masuk di daerah ini. Selama surau
berlangsung sebagai tempat penyembahan, surau hanya dibangun di wilayah
perbukitan dan pedesaan yang jauh dari pemukiman masyarakat. Azyumardi
Azra menyebutkan, surau paling awal dibangun di puncak bukit atau
tempat yang lebih tinggi dari lingkungan, karena surau dieksistensikan
sebagai tempat penyembahan.
Fungsi surau sebagai tempat
penyembahan ini, mencerminkan bahwa surau tidak dapat dilepaskan dari
ritualisasi ibadah masyarakat, sekaligus menunjukan bahwa masyarakat
sudah memiliki kepercayaan tentang adanya kekuatan yang mengatur di
luar dirinya, sehingga surau dalam masyarakat Minangkabau sudah lama
menjadikan masyarakat beragama. Hal ini membuktikan bahwa struktur
sosial masyarakat Minangkabau sudah dilengkapi dengan fungsionalisasi
keagamaan, sekali pun saat itu agama tradisional.
Silfia Hanani, Rekonstruksi Surau Sebagai Institusi Pendidikan
Fungsi surau yang demikian, kemudian mengidentikkan arti surau sebagai
tempat penyembahan. Istilah ini menjadi istilah Melayu yang banyak
dipergunakan di Asia Tenggara dan populer di Minangkabau, Sumatra
Selatan, Semenanjung Malaysia, Sumatra Tengah dan daerah Patani
(Thailand Selatan). Kepopuleran nama surau ini, merupakan sebagai salah
satu bukti, bahwa masyarakat Minangkabau sudah mempunyai hubungan
interaksi dengan berbagai wilayah. Hubungan ini diprediksikan terbentuk
melalui jalinan politik dan ekonomi yang dimainkan oleh pialang-pialang
ekonomi Minangkabau.
Silfia Hanani, Rekonstruksi Surau Sebagai Institusi Pendi
Ringkasan lain tentang Rekonstruksi-Rekonstruksi Surau Sebagai Institusi Pendidikan di Minangkabau