Tepat
tanggal 13 September lalu,
Universitas Andalas (Unand) genap berusia 50
tahun. Maka Unand pun merayakan "pesta emas"nya
dengan cukup meriah.
Beberapa bulan sebelum hari ulang tahunnya, universitas tertua di pulau
Sumatra
itu telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan: ada seri
ceramah ilmiah, penerbitan 50 judul buku, pentas musik pop dengan
mendatangkan Indonesian idol, dan akhirnya ditutup dengan
penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Presiden Republik
Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Banyak komentar telah kita baca di media cetak, elektronik dan cyber
berkaitan dengan program-program acara
dalam rangka "pesta emas" Unand
tersebut, mulai
dari yang positif sampai yang bernada miring. Ada
komentar yang mengharapkan peran Unand yang lebih besar dalam
pembangunan daerah; Unand didorong untuk menjadi bagian dari Sumatra
Barat (seolah-olah selama ini Unand bukan bagian dari Sumatra Barat).
Yang lain menyoroti kecenderungan petinggi Unand "bermesraan" dengan
"praktisi" politik praktis. Cerita "selesai memimpin Unand menjadi
(wakil) gubernur atau menteri" sudah lama menjadi berita miring di
kalangan tertentu masyarakat Sumatra Barat.
Tetapi,
marilah kita melupakan itu semua,
dunia yang sebenarnya tidak relevan
benar dengan dunia universitas. Alangkah baiknya dalam rangka 50 tahun
Unand para alumni dan sivitas akademikanya melakukan refleksi capaian
akademis yang telah diraihnya, karena capaian
akademik itu adalah
"spirit" yang menghidupkan suatu perguruan tinggi; bagaimana cara
menggairahkan tradisi akademik di kampus Unand yang selama ini terasa adem ayem
saja. Universitas, di (negara) manapun letaknya tetaplah universitas.
Dunia universitas adalah dunia yang berdalam-dalam, yang bersepi-sepi.
Ia tidak boleh dikakok dengan setengah hati. Sebuah universitas menjadi "babaun" karena prestasi akademik yang diraihnya. Prestasi akademik itu adalah resultaat
dari dinamiknya tradisi akademik dalam kampus universitas itu, dimana
dosen, mahasiswa, dan para pegawainya saling bekerjasama dalam satu
sinergi, "menjarakkan" diri dari dunia politik praktis di luar kampus.
Ringkasan lain tentang 50 Tahun Unand - Sebuah Catatan Capaian Akademik