Cerita tentang Sumatera Barat
atau Ranah Minangkabau dulu memang
membuat banyak orang terkagum-kagum dan bangga. Sekarang tak lagi,
malah membuat banyak orang terenyak dan mengutuk. Jangan lagi bermimpi
akan lahir pemimpin-pemimpin sekaliber Bung Hatta. Hamka, Agus Salim,
Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, atau Mohammad Natsir. Itu masa lalu dan
hanya tinggal kenangan.Slogan-slogan
industri otak yang dulu diagung-agungkan rupanya “kecap” untuk
melicinkan jalan ke panggung kekuasaan. Betapa banyak calon kepala
daerah yang dalam misi dan visinya, dan anggota legislatif dalam
kampanye serta orasinya, ingin meningkatkan kualitas pendidikan,
menggalakkan industri otak, dan me-nol-kan
kasus balita gizi buruk.
Setelah mereka meraih kedudukan yang diinginkan, semua janji-janjinya
terlewatkan. Uang sepertinya telah menyilaukan matanya.Banyak
bukti yang bisa dibeberkan. Mutu
pendidikan Sumatera Barat (Sumbar)
secara nasional anjiok. Anggaran pendidikan sebesar 30 persen dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hanya mimpi. Kasus gizi
buruk sejak tahun 1996 sampai sekarang tak pernah habis-habisnya.
Bahkan, dewasa ini ada puluhan ribu balita, menurut hasil penelitian,
masih menderita dan rawan gizi buruk. Sumbar terancam lost generations.
Ringkasan lain tentang Korupsi Merajalela di Atas Penderitaan Puluhan Ribu Balita Gizi Buruk