Keinginan
melihat pertunjukan
teater di Sumatra Barat yang berbobot, agaknya
harus dipupus. Sejak tahun 2000-2007 pertunjukan teater di Sumatra
Barat jumlahnya mungkin mencapai ratusan, dan sebanyak itu pula
reportoar yang sudah diangkat ke atas pentas.
Tapi,
nyatanya, kuantitas pertunjukan tidak menjamin kualitas pertunjukan.
Problem utamanya tak jauh
dari seputaran: berkesenian (berteater)
dilakukan karena adanya
iven atau memenuhi undangan atau dalam rangka.
Artinya pula, teater di Sumatra Barat telah kehilangan substansi dan
hakekatnya. Maka, jika menyebut konstelasi dan peta perteateran
mutakhir di Indonesia, jangan berharap banyak Sumatra Barat menjadi
salah satu simpul.
Teater di Sumatra Barat tidak dianggap penting dalam kancah dan
arah perkembangan teater di Indonesia. Pegiat-pegiat teater yang muncul
sekarang
ini, tak lebih sekumpulan orang yang hanya mampu bersorak
sorai di kandangnya sendiri: narsisisme. Malah, minus referensi
perkembangan teater mutakhir. Mereka ini kurang membaca. Kalimat di
atas merupakan paragraf pertama artikel saya yang dimuat koran ini
beberapa waktu lalu. Bagian ini saya kutip karena terkait dengan sebuah
iven teater yang bernama Festival Teater Sumatra Barat (FTSB) 2007 yang
digelar di Taman Budaya Sumatra Barat sejak 21 Agustus – 1 September
2007 lalu. FTSB-2007 diikuti 12
kelompok teater yang berasal dari
daerah ini. Peserta FTSB-2007 didominasi kelompok teater dari Padang
(10 kelompok teater), dan dua kelompok dari luar Kota Padang (Komunitas
Seni Intro Payakumbuh dan Teater Bunga Pakis Solok Selatan).
Selain 12 kelompok teater yang ikut FTSB-2007, iven ini juga
dimeriahkan dengan kahadiran tiga kelompok teater demi memberi “wibawa”
FTSB-2007, yaitu Teater Dayung-Dayung dari Kayutanam tampil dalam
pembukaan, Komunitas Rumahitam, Batam, Kepri, dan Teater Keliling
Jakarta untuk penutup iven ini.Tapi tiga kelompok ini tidak dimasukkan
dalam penilaian pengamat. Namun demikian, tulisan ini juga tidak
berkeinginan membincangkan hasil pengamatan tiga orang tokoh teater
Indonesia itu yang hasil amatan mereka telah diumumkan pada tanggal 1
September 2007. Artikel ini cuma memberi gambaran tentang kehendak
sebuah festival, arah dan capaian sebuah festival. Dan sejauh mana
FTSB-2007 yang digelar oleh Taman Budaya Sumatra Barat memberi arti
bagi pertumbuhan teater di Sumatra Barat untuk masa selanjutnya. Yang
pasti saja, ini bukan satu-satunya iven yang mesti ditunggu oleh pegiat
teater di daerah ini, yang sesungguhnya telah terkubur 20 tahun.
Ringkasan lain tentang Festival Teater Sumatera Barat 2007 : Konsep Program yang Kacau