Yangtsekiang's Memory Seperti Puisi
Summary rating: 5 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
146
kata:
900
Diterbitkan di: September 11, 2007
Yangtsekiang’s Memory Seperti Puisi Yang Hadir Mengalir Oleh A. Kohar Ibrahim SIAPA sangka sarana sederhana namun ditunjang teknologi canggih seperti rangkaian matarantai situs Multiply dan yang semacamnya lagi, bisa memberikan bukti sebagai suatu pertanda kardinal ? Seperti banyaknya penyimak atau peng-klik, bahkan tumbuhnya peminat sekaligus daya apresiasi seni. Iya. Benar ragam macam situs atau blog telah menjadi sarana tak ubahnya sarana pers atau media massa di alam revolusi komunikasi dan teknologi yang semakin lama semakin canggih, semakin tinggi. Baik dalam kwantitas dan kwalitas teknis maupun isi yang tersajikannya. Dari segala keanekaragaman mana, tumbuh berkembang apa yang kemudian mendapat sebutan Citizen Journalism. Dalam mana, di samping massa penulis atau penyaji yang amat luas, juga cukup banyak para pengisi-menjajinya yang berposisi sebagai pemuda-pemudi, mahasiswa-mahasiswi, intelektual, budayawan bahkan para pakar dari berbagai bidang kehidupan. Para peminat atau pembacanya pun demikian adanya – pun keaneka ragaman domisilinya dari lima benua. Sebagai argumentasi dari yang saya utarakan tersebut di atas, tak usahlah disebutkan sajian tulisan maupun foto serta nyanyian yang memang paling banyak peminatnya – seperti seni masak-masakan dan seni musik, namun sajian yang berkarakter agamis dan sajian kesenian seperti puisi dan seni rupa juga layak menjadi pengisi bloknota yang signifikan. Seperti terbukti, di Situs Schvoong, misalnya sajian catatan ringkas (catkas) mengenai kreasi puisi cukup mendapatkan sambutan para pembaca. Seperti yang berjudul « Kemerdekaan Puisi Kemerdekaan » mendapat kunjungan 477. Disusul oleh rekor dari penyair macam HR Bandaharo, 272 pengunjung. Chairil Anwar, 800 pengunjung. WS Rendra, 716 pengunjung dan Wiji Thukul, 747 pengunjung. Dan rekor itu diperoleh dari sajian karya puisi yang dipajang hanya dalam waktu kurang-lebih sebulan saja ! Jikalau pengguna ragam macam situs atau bloger hanyalah untuk mengekspresikan diri, menyimpan sekaligus memasang-pajang sajian demi berbagi dengan rekan atau para pembaca umum namun terbatas, bukankah rekor tersebut sudah merupakan suatu prestasi yang layak mengisi bloknota masing-masing ? Selaras ungkapan sang penyair, bahwa yang penting : hadir mengalir. IYA. Yang penting hadir mengalir. Tak peduli apakah seperti kalenan, anak kali ataukah kali besar seperti Kali Berantas dan Bengawan Solo bahkan seperti Yangtsekiang adanya. Iya, memang seperti contoh lainnya yang selayaknya masuk dalam halaman bloknota – berkenaan dengan karya seni rupa yang terpasang-pajang di ABE-Kreasi Multiply Site atau Painting.Multiply.com berjudul “Yangtsekiang’s Memory” – Tinta Cina on paper. Tiga serangkai lukisan dengan media tinta cina di atas kertas cat-air ini mendapat perhatian lumayan juga dari para penyimaknya. Yang ragam macam, dari yang nampaknya sebagai orang biasa namun punya perhatian sampai pada yang tergolong intelektual, penyair dan esais. Teriring komentar ringkasnya masing-masing, dari pertanyaan lugu sampai komen yang kritis lagi analitis. Serangkuman reaksi bervariasi atas karya lukis yang memang bukan menggunakan gaya-cara realistis melainkan abstraksi dari memory menelusuri Yangtesekiang itu saya tanggapi selayaknya. Antara lain, bahwa, suatu karya – dalam hal ini senirupa – sebenarnya lebih cenderung mengundang gugahan perasaan, menimbulkan tandatanya, untuk diapresiasi oleh tiap penatapnya, bukan penyajian berupa jawaban – apa lagi sebagai resep siap jadi. Jangankan yang non pelukis atau yang awam, para pelukis sendiri pun bisa saja – malah seringkali menginterpretasikan maupun mengekspresikan sesuatu hal yang sama namun berbeda-beda hasil kreasinya. “Terima kasih Bung Abe,” ujar salah seorang dari rekan Multiply – BA16 – yang saya kenal sejak lama sebagaikutu buku, penyair dan esais asal Borneo yang bermukim di States. “Dari 3 memory kamu di kanpas ini, aku melihat ‘hantu’ indera ketidaktahuan(ku) sendiri, rasanya seperti merasuk ke alam mimpi. Dan hantu ‘kan tidak selalu negatif; ia hanya menjadi hantu-negatif dari reaksi si penerima yang pengalamannya sengaja atau bukan-sengaja ditutup-mati (kunci-abis) – yang menggelik adalah mengikuti alur garis yang berkelir-kelir, hampir keriting tetapi bisa melegak tebal-kelam, mengabu-abu seperti sosok awan-gemawan; yang pertama ‘bermata’ itu, seperti legenda ‘mata-satu’ hariku telah-sudah menengok pun melihat jejaklangkah(ku), ia matariku juga matabathinku. Bisa langitku pun cerminanku…” Benar memang benarlah se-ada-nya, apa ada-nya begitu. Karya berkarya itu dalam rangka untuk hadir mengalir, menemukan pembaca atau peminat-lihat-nya yang bervariasi, pun bisa menggugah variasi emosi juga. Selaras daya apresiasinya masing-masing. *** (Akibr)