oleh: Nilna Iqbal - PustakaNilna.com
Energi manusia kerap kali meledak akibat perubahan reaksi emosionalnya. Salah satu diantaranya, energi seksuil. Lantas bagaimana mengaturnya?
Jika Anda dikejar seekor binatang buas, pada waktu
itu Anda mungkin mampu memecahkan rekor lari cepat, demi menyelamatkan nyawa Anda. Atau salah seorang keluarga Anda dianiaya
orang lain, tentu Anda akan marah luar biasa. Saat itu Anda tak lagi peduli dengan kelemahan fisik yang Anda derita, berganti dengan keberanian yang mungkin dalam kondisi normal tak biasa Anda lakukan.
Surplus Energi
Seksual Para fisiolog dalam penyelidikannya terhadap orang-orang normal berpendapat bahwa lingkunganlah yang mempengaruhi otak, sedang otak mendorong
alat-alat tubuh. Begitu pendirian Sherrington, Crile dan lain-lain.
Sebaliknya para psiko-analis –yang tentu saja menyusun hipotesanya dengan mengamati orang-orang ‘sakit’- malah berpendapat, alat-alat tubuhlah yang membuat otak bekerja. Tak kurang dari tokoh-tokoh terkemuka, Kempf, Freud, Adler dan Jung berpendapat demikian.
Lalu Walter B. Fitkin lebih tegas lagi mengatakan, “…di sinilah letaknya perbedaan antara orang normal dan yang tak normal”.
Kemudian ia melanjutkan, “Orang-orang biasa yang sehat kurang berminat akan segala masalah-masalah erotis. Reaksi
mereka terhadap itu tak ubahnya seperti terhadap rasa lapar atau dahaga”.
Artinya, mereka baru melampiaskan nafsunya itu kalau betul-betul wajar dan termungkinkan. Kalau tidak, sebisanya mereka akan melupakan saja. Karena apa? Sekali lagi, orang-orang normal bisa menguasai dan mengendalikan energinya, termasuk energi seksual yang ‘ganas’ dan kuat itu. Sedang orang tak-normal, penyakit syaraf dan ‘lemah’, dirinya dikuasai oleh bagian-bagian alat tubuhnya. Pada prinsipnya mereka memang ‘orang-orang malang’.
Lantas apa yang bisa
kita perbuat dalam mengatasi surplus dan desakan kuat energi seksuil tersebut? Dalil utama yang disarankan Walter adalah “salurkan pada pekerjaan yang membutuhkan banyak energi”. Misalnya bentuk-bentuk permainan, gerak badan, aktif dalam organisasi (yang minta banyak energi), dan sebagainya. Bahkan lebih disarankan mengutamakan cabang-cabang olah raga dan keasyikan yang terutama meminta tenaga besar dari otot-otot lengan, kaki dan punggung, serta bisa dilakukan dengan sendirian.
Selain itu segala pergaulan masyarakat yang secara langsung atau tidak, melingkupi taraf kehidupan asmara, yang merangsang reaksi-reaksi seksuil, sebaiknya dihindari sejauh mungkin.
Pergaulan yang terlalu bebas antara pria dan wanita, sehingga membangkitkan rangsangan-rangsangan erotis terus-menerus, yang lalu diperkuat oleh film-film, sandiwara dan roman picisan, berkemungkinan besar menyebabkan ribuan orang jadi ‘korban’ dan sedikit agak neurotis. Andaikata mereka ini bisa berada sendirian sambil menyibuki diri dengan pekerjaan-pekerjaan tangan yang berat-berat, maka besar kemungkinan mereka akan kembali normal. Tapi kendatipun begitu, perbedaan-perbedaan individuil jelas tak dapat dielakkan, sebab tak ada manusia yang benar-benar sama di dunia ini.
Kini persoalannya balik lagi pada diri kita sendiri. Maukah kita menjadi ‘raja’ atas diri kita sendiri, ataukah kita rela ‘diperbudak’ oleh kemauan ‘membabi buta’ alat-alat tubuh kita? Jawaban pertanyaan itu tentu ada pada masing-masing diri…!
Ringkasan lain tentang Ledakan Energi Seksual