Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Zus Djin Sang Perempuan Melangit

.

Zus Djin Sang Perempuan Melangit

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 90  kata: 900   Diterbitkan di: September 10, 2007
Zus Djin Sang Perempuan Melangit     Oleh : A. Kohar Ibrahim     PAGI hari Jumat 7 September 2007. Sarapan tersajikan perempuanku berupa secangkir kopi tubruk dan getuk lindri. Teriring ucapan yang sarat kemesraan selayaknya kaum perasa. Maka rasa nikmat pun bertambah adanya.   Sungguh suatu kebetulan yang mengejutkan, nyaris suatu keajaiban ! Tatkala aku menyimak berkas berita, seusai menyusun naskah tentang wafatnya Tenorissimo Luciano Pavarotti, di kotak Email datang kiriman berita yang menggemakan dukacita juga. Dan juga tak kurang makna sentuhan dukacitanya. Karena yang juga meninggal dunia pada hari Kemis 6 September itu, sekalipun bukan sosok kaliber mondial, namun ada nilai lokal, nasional bahkan internasional pula. Dan dia seorang perempuan. Penulis, jurnalis, aktivis organisasi Perempuan. Dialah, salah satu sosok perempuan yang aku kenal dan hargai sebagai perempuan.  Perempuan sang pembela kemerdekaan dan hak kaum perempuan, rakyat dan bangsa Indonesia untuk menjalani hidup kehidupan yang manusiawi. Bernama Sudjinah. Seperti halnya aku menghormat-hargai penulis perempuan lainnya seperti S. Rukiah dan Sugiarti Siswadi. Seperti perempuan-perempuan lainnya yang selama hidupnya senantiasa setia pada cita-cita perjuangan memerdekakan rakyat dan bangsa Indonesia dari belenggu penindasan dan kemiskin-sengsaraan. Orang-orang yang hidup kehidupannya merakyat – lantaran memang kelahiran rakyat – yang kebanyakan masih hidup dengan penuh derita sengsara – lapar dan dahaga. Mereka yang bukan hanya tahu akan kesulitan dan perjuangan hidup, namun mereka sendiri mengalaminya. Oleh karena itu, jejak-langkah perjuangan mereka dilakukan atas dasar kesadaran. Maka dari itu pula memiliki keteguh-uletan dan kesabaran, teriring rasa setiakawan yang setulus-tulusnya.   « Kohar, apa kabar ? Cukup tidur tadi malam? Sudah makan ? » sapa suara seorang perempuan suatu pagi hari, Mai 1965, ketika aku menyimak beberapa naskah di ruang redaksi HR-Minggu di Jalan Pintu Air, Jakarta. Aku angkat perlahan wajahku, hanya untuk menampak senyum dari wajah cerah: Zus Djin. Belum lagi sempat aku memberi jawaban, dia sudah melanjutkan: “Aku gembira membaca laporan kalian dari Istora di halaman satu itu. Seger bernas.”   Aku hanya baru sempat senyum, hendak membuka mulut, tapi Zus Djin sudah melanjutkan: “Ilustrasi fotonya pun pas banget! Bung Karno dan Bung Aidit berdampingan sembari melambaikan tangan. Dilengkapi teks ujar kata BK: “Yo sanak yo kadang yen mati aku melu kelangan.”   “Bersejarah…!” ujarku dalam upaya menyelipkan sepatah kata.   “Iya,” sambutnya. “Selain mengantarkan naskah, sebetulnya aku ingin ngomong dengan Bung Dahono, supaya nanti, ketika dilangsungkan Kongres Gerwani, kalian yang meliputnya, yah?”   Aku hanya bisa mengangkat alis, Zus Djin sudah melanjutkan: “Iya. Kau, Zan dan Tikno lah. Lebih sedep kalau laporan dari wartawan sekaligus juga sastrawan….”   Setelah memesan, agar supaya aku menjaga kesehatan baik baik, cukup tidur dan makan diperhatikan, lantas dia buru-buru pamit. Jejak langkah yang diayunkannya begitu lincah, nyaris gagah seperti jawara saja. Dalam beraktivitas untuk menghidupi diri sekaligus organisasi yang ditekuni Zus Djin dan kawan dekatnya Zus Sulami serta yang lainnya mencurahkan pikiran dan tenaga kadang terkesankan sama bahkan melebihi kaum lelaki. “Karena tuntutan sikon (situasi-kondisi) nya begitu,” begitulah alasannya yang diberikan, nyaris seragam, oleh pekerja sosial maupun pekerja budaya yang digolongkan bukan saja melakukan kerja tekun tapi juga kerja kobar. Kebanyakan dari mereka, kebanyakannya pontang-panting dalam memburu diburu sang waktu untuk menghadiri satu ke lain rapat. Bukan kaum aktivis perempuan saja, barang tentu. Kaum lelakinya juga. Dan kami sendiri, sebagai pekerja-pekerja pers muda, selain duduk di dewan redaksi ini dan itu, juga sebagai reporter. Untuk mengcover peristiwa bukan hanya yang terjadi di Jakarta, melainkan kemana dan dimana saja yang diperlukan.   Perihal ini rupanya jadi salah satu bahan obrolan kawan-kawan tertentu, termasuk sampai infonya kepada Zus Djin. Menjadi salah satu macam sebab menumbuhkan minat perhatian dan setiakawan – di kalangan kawan-kawan seperjuangan?   Kami, dalam periode tahun 50-60-an itu, tergolong kaum penulis-jurnalis yunior, sedangkan mereka – Sujinah, Rukiah, Sugiarti adalah para penulis senior. Begitupun, meski juga pendidikan, pengalaman dan prestasi mereka jauh lebih besar, kami dibiasakan untuk memanggil mereka cukup dengan didahului kata Zus.  Sedangkan untuk kaum lelaki, dengan menggunakan kata Bung. Kesderhanaan mereka dan kerendah-hatian mereka serta perhatian mereka pada hidup kehidupan kawan-kawan seperjuangan demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang merdeka penuh, membikin rasa hormatku kian dalam.   Mereka telah melakukan perjuangan sejak masa muda, dalam zaman Revolusi Agustus ‘45 dan sesudahnya, di zaman Sukarno. Sebagai para pendukung garis politik Presidenn Sukarno. Zus Sujinah sendiri, ketika kiprah di gelanggang internasional, juga dalam rangka memperjuangkan terwujudnya aspirasi kemerdekaan rakyat Indonesia – istimewa sekali nasib dan hak-hak kaum wanita. Bahkan, pada tahun-tahun yang teramat genting, setelah kaum militeris Orde Baru pimpinan Jenderal Suharto-Nasution, dengan penuh keberanian Zus Djin dan kawan-kawannya  melakukan kegiatan untuk membela-mendukung Bung Karno. Sampai saat tertangkapnya pada awal tahun 1967. Untuk selanjutnya mengalami derita yang luarbiasa baik ketika di balik trail besi maupun ketika di luar penjara Orde Baru. Karena, sesungguhnya, di bawah kekuasaan otoriter Orde Baru, seluruh Indonesia merupakan wilayah penjara.   Sebagai sosok perempuan pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia, istimewa sekali kaumnya, pun sebagai penulis, Zus Djin telah membuktikan keteguh-setiaannya pada cita-cita yang luhur. Salah sebuah bukunya, terbitan ISAI, berjudul “Terempas Gelombang”, sudah pasti akan lebih banyak lagi mendapat perhatian orang.   KINI, salah seorang perempuan Solo (78) yang terhempas gelombang kekuasaan tiranika, telah berpulang ke alam baqa. Terbang melangit. Terbang melayang ke puncak-tinggian cita-cita hidup kehidupannya yang manusiawi. *** (Akibr)

Ringkasan lain tentang Zus Djin Sang Perempuan Melangit
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------