• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sastra, Media Massa, dan Beberapa Fenomena

.

Sastra, Media Massa, dan Beberapa Fenomena

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : SUDARMOKO
Prosa
Indonesia telah berkembang sedemikian rupa mencari bentuknya. Dengan
dukungan sarana publikasi media massa
cetak, prosa bersama dengan puisi
dan kritik sastra dan seni tumbuh subur dalam kehidupan sastra. Dari
hari ke hari kian muncul sejumlah karya baru dan penulis baru. Disertai
dengan capaian-capaian yang memperkaya keberadaan sastra kita. Sastra
seakan mengukuhkan diri sebagai sebuah lini dari seni dan budaya yang
mendapatkan tempat penting di tengah-tengah masyarakat. Sesuatu yang
telah dilontarkan oleh Sartre dalam What is Literature? (1986),
karena keunikan sastra dalam mengolah berbagai emosi dan
keberterimaannya dalam masyarakat luas, terutama karena peran bahasa
sebagai media utamanya. Dalam
waktu belakangan, banyak lahir dan hadir penulis muda yang memiliki
karakter tersendiri dalam karya-karya sastranya. Setelah kepergian
sejumlah sastrawan berkelas dan berkarakter seperti Umar Kayam, AA
Navis, Kuntowijoyo, hingga Pramoedya Ananta Toer, dobrakan penting
dalam sastra sangat ditunggu. Inilah mungkin masa-masa kesedihan
sekaligus harapan akan lahirnya sastrawan yang akan membawa dan
mengenalkan budaya bangsa pada dunia. Dengan wilayah eksplorasi yang
berbeda, mereka menjadi pelanjut kehidupan sastra kita. Setiap
masa selalu melahirkan sejarahnya sendiri. Demikian juga dengan sejarah
sastra (Indonesia). Setiap periode memiliki nama dan gaya pengucapan
tersendiri, yang merupakan hasil dari pergaulan antara sastra Indonesia
dengan sastra dunia, antara sastra dengan disiplin yang lain, sastra
dan realitas sosial, dan pergaulan berbagai wacana dan sejarah sastra
itu sendiri. Cerpen, Novel, dan Media Massa Cerpen
dan novel masih menjadi karya yang mendapatkan tempat di tengah-tengah
pembaca kita. Cerpen memiliki tempat khusus di koran-koran dan majalah.
Sekian puluh, atau ratus, cerpen lahir dari tangan para cerpenis setiap
minggu. Sebagiannya berhasil masuk dalam rubrik koran dan majalah, dan
sebagian lebih besar harus berpuas diri untuk didiamkan atau masuk
dalam barisan antri. Demikian juga halnya dengan sayembara cerpen yang
berhasil menghimpun banyak karya.Kehadiran
cerpen di ruang-ruang koran merupakan bentuk fasilitasi yang menarik,
dengan penyandingan antara fakta dan fiksi. Dengan menghadapi koran,
pembaca dibiasakan untuk berhadapan dengan fakta dan berita. Resepsi
yang disiapkan oleh pembaca membuat redaktur budaya bersiasat untuk
menghadirkan cerpen dengan cara sedemikian rupa. Tak lepas dari itu
adalah kecenderungan cerpen di koran yang harus beriringan dengan
peristiwa yang ada di dalamnya. Di tengah-tengah kondisi seperti ini,
kebebasan eksperimentatif dan eksploratif estetik cerpenis terus
ditantang. Berbagai cara dilakukan, baik yang berhubungan dengan tema,
peristiwa, maupun bahasa.
Diterbitkan di: September 07, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.