Saya
mengenal Pak Kasoema sejak tahun 1954 lebih dari setengah abad yang
lampau. Ketika
itu saya mulai mencempungkan diri ke dalam dunia
kewartawan. Saya masih ingat, baru dua atau
tiga buah berita saya
dimuat
oleh surat-surat kabar Padang, baik oleh surat kabar Haluan dan
Harian Penerangan. Sekali-sekali ada juga tulisan saya dimuat oleh
majalah Waktu yang terbit di Medan.
Setiap kali tulisan saya dimuat oleh koran, saya kepit koran itu kemana pun saya pergi. Ke lapau
(warung), ke surau, ke masjid, ke pasar saya bawa koran itu. Saya
perlihatkan kepada orang kampung, kepada teman-teman sebaya bahwa
berita atau tulisan saya dimuat di koran anu.
Bukan main
bangganya saya. Barangkali rasa bangga yang saya alami itu juga
dirasakan oleh setiap wartawan pemula. Tiba-tiba terpikir oleh saya,
dengan apa dibeli kertas? Beli perangko, bayar telepon interlokal,
bayar kawat, dll? jangankan menerima gaji, honor pun belum ada. Gaji
apa, saya kan belum dibenoem,
belum diangkat, belum punya besluit, surat pengangkatan sebagai
wartawan. Makanya saya ingin melamar menjadi wartawan Haluan, Padang.
Saya temui Pak Kasoema Pemimpin Umum Haluan. Ketika itu berkantor di gedung Bagindo Aziz Chan sekarang.
Kamardi Rais, H. Kasoema, Pejuang Pers Tiga Zaman
Pak Kasoema orangnya pendiam, sedikit kalem. Dia tidak suka banyak
bicara. Menanggapi niat saya menjadi wartawan Haluan yang beliau
pimpin, beliau hanya bicara singkat.
Sumber: www.ranah-minang.com/content.php?article.145
“Bilang sama Darwis Abbas atau Tengku Alang!”
Kamardi Rais, H. Kasoema, Pejuang Pers Tiga Zaman
Tengku Alang pada waktu itu Wakil Pemimpin Redaksi Haluan. Saya masih duduk di depannya ketika Pak Kasoema berkata lagi,
Sumber: www.ranah-minang.com/content.php?article.145
“Ayo, apa lagi?” Tanyanya sambil menatap mata saya.
Kamardi Rais, H. Kasoema, Pejuang Pers Tiga Zaman
Lalu saya berdiri sembari mengunjukkan tangan saya untuk bersalaman dan mohon diri dari kamar Pak Kasoema.
Ringkasan lain tentang H. Kasoema, Pejuang Pers Tiga Zaman. Kasoema, Pejuang Pers Tiga Zaman