H. Muhammad Jatim (Seri Tokoh
Pendiri Bank Nasional)
Tukang tulih SudarmokoJumaik, 06 Mei 2005 - 20:02 / Al-Jum''a, 27 Rabi Al-Awwal 1426 H
Bila
pada suatu pagi yang cerah, Anda berjalan-jalan menikmati keindahan
Ngarai Sianok, besar sekali kemungkinan Anda akan berpapasan dengan
mobil Bank Nasional yang turun ke bawah untuk menjemput
seorang tua,
yaitu H. Mhd. Jatim, presiden direktur Bank Nasional sendiri.
Beliau biasa pulang ke kampungnya di Sungai Jariang, Kecamatan IV Koto,
dan kampung itu adalah paling demokratis, di bidang perhubungan, karena
dari orang yang paling miskin hingga sampai presdir Bank Nasional harus
berjalan kaki sampai ke Ngarai Sianok.
H. Mhd. Jatim
lahir di kampung Sungai Jariang ini pada
tahun 1898, di pertukaran abad
ke 19 dan ke 20, sehingga peringatan 40 tahun Bank Nasional, berarti
juga peringatan 72 tahun usia presdirnya yang juga salah seorang
pendiri pada tahun 1930.
Tujuh puluh tahun yang lalu, Sutan Pangeran dan istrinya, Siti Hambar,
kemenakan H. Abdul Fakih, hidup tentram dengan berdagang ikan kering,
demikian juga ketika anaknya Muhammad Jatim lahir ke dunia. Ibu, bapak,
dan neneknya mencita-citakan agar si Jatim menjadi seorang
anak yang
pandai dan taat kepada agama. Karena itulah setelah berusia 8 tahun,
iapun dimasukkan ke sekolah dasar Sungai Jariang yang ketika itu
bernama Volkschool,
yang hanya sampai kelas 3. Inipun sudah aneh untuk masa itu, dimana
anak-anak biasanya tiadalah disekolahkan, paling diserahkan mengaji
Qur’an.
Tetapi Mhd. Jatim mendapat kedua didikan ini, dan
setamatnya dari kelas 3 iapun diasuh mengaji oleh neneknya H. Abdul
Fakih, seorang alim yang telah enam kali naik haji, giat dalam
berdagang, dan ketika itu mempelopori pembukaan tanah baru (manaruko)
ke Lubuk Basuang. Beliau membawa penduduk Sungai Jariang untuk membuat
sawah dan ladang di Lubuk Basuang yang sampai sekarang hasilnya masih
dinikmati oleh anak cucunya.
Ringkasan lain tentang H. Muhammad Jatim (Seri Tokoh Pendiri Bank Nasional)