• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sekolah (tidak) untuk Semua

.

Sekolah (tidak) untuk Semua

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : SUDARMOKO
Hari-hari terakhir ini, para murid sekolah dasar dan lanjutan telah mendapatkan hasil dari
proses bergurunya selama
ini. Sebagian besar murid telah mencari dan
diterima di sekolah yang lebih tinggi. Sebagian yang lain juga telah
mengikuti ujian untuk memperebutkan kursi di perguruan tinggi. Bagi
mereka yang masih belum masuk sekolah, inilah saatnya bagi para orang
tua untuk mencarikan sekolah bagi anak-anak mereka. Banyak sekolah
dasar yang menolak menerima murid lagi karena sudah melebihi quota.
Sebagian orang tua menangis karena anaknya tidak diterima. Mereka
mencari sekolah-sekolah lain, yang mungkin masih ada peluang, meski
jauh dari tempat tinggalnya, lebih mahal ongkosnya, dan tak banyak
pilihan untuk saat-saat seperti ini. Seperti
inilah kondisi yang ada. Sebagian sekolah dasar telah berubah menjadi
toko karena kekurangan murid. Yang akhirnya ditutup dan
dialihfungsikan. Sementara untuk saat-saat tahun ajaran baru para orang
tua seperti kekurangan sekolah untuk anak-anak mereka. Dunia pendidikan
memang masih menyisakan banyak persoalan. Selain masalah kualitas,
sistem, dan dukungan dana yang tersedia dari pengelola dan dinas
pendidikan. Pendidikan
menjadi signifikan karena hampir semua orang percaya bahwa melalui
pendidikanlah kualitas hidup ditentukan. Dan pendidikan formal menjadi
pilar utama dalam persoalan ini. Orang tidak lagi melihat bagaimana
proses dan sistem yang berlangsung di sekolah begitu tiba saatnya bagi
mereka untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah. Mereka harus
bertarung untuk mendapatkan kursi bagi anak-anak mereka di
sekolah-sekolah yang dianggap unggul dan bagus kualitasnya. Dan
pertarungan itu lebih banyak diakhiri dengan air mata karena gagal
untuk mendapatkan kursi. Keadaan
ini masih terus terjadi di semua level. Mereka yang baru saja atau
beberapa tahun menamatkan pendidikan tinggi juga segera berhadapan
dengan realitas pertarungan lain, mencari kerja, menunggu pengumuman
penerimaan cpns, melihat-lihat pengumuman lowongan kerja, dan
sebagainya. Dan pendidikan menjadi salah satu barometer penting di
dalamnya, antara lain dengan pengaturan formasi disesuaikan dengan
pendidikan yang dicapai oleh pelamar. Misalkan saja, untuk menjadi
pegawai di pemda, yang dibutuhkan adalah ijazah smu, sehingga mereka
yang bahkan sudah lulus perguruan tinggi juga harus menyimpan dulu
ijazahnya, cukup dengan memasukkan ijazah smunya. Untuk menjadi tenaga
pengajar, harus menyertakan ijazah perguruan tingginya. Dan seterusnya.
Diterbitkan di: September 07, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.