Lebih
kurang empat puluh tujuh tahun yang lalu, persisnya tanggal 12 November
1956, seorang ulama besar Minangkabau
tampil di mimbar pimpinan
Majelis Konstituante RI di kota Bandung. Ulama besar itu tidak lain adalah
almarhum Inyiak Syekh H. Sulaiman Ar Rasuli Canduang yang populer
dengan panggilan Inyiak Canduang dari Bukittinggi, Kabupaten Agam.
Dalam
rangka haul Inyiak Canduang yang ke 25, (almarhum wafat tanggal 1
Agustus 1970), maka Menteri Koordinator Kesra Ir. H. Azwar Anas Dt.
Rajo Suleman, pada tanggal 1 Agustus 1995, membuka acara haul ini di
Canduang dan sebuah seminar digelar di Tri Arga Bukittinggi serta
ditutup dengan acara tahlillan. Sekarang tidak terdengar lagi acara
haul Inyiak Canduang tersebut.
Kita kenang kembali Inyiak
Canduang, seorang ulama besar yang berjasa besar dalam memajukan
pendidikan Islam di negeri ini dengan mendirikan Tarbiyah Islamiyah.
Namanya pun sederet dengan Syekh H. Muhammad Djamil Djambek, Dr. H.
Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Dr. H. Abdullah Ahmad, Syekh
Ibrahim Musa Parabek, Syekh H. Mustafa Abdullah dan adiknya Syekh Abbas
Abdullah Padang Japang dan Syekh Thaib Umar Sungayang serta Syekh Mod.
Djamil Djaho.
Pada pemilihan umun tahun 1955 yang dilaksanakan pada masa Kabinet
Burhanuddin Harahap, ulama besar itu terpilih sebagai anggota Majelis
Konstituante RI atau Majelis Pembuat Undang-Undang Dasar RI dari Partai
Islam Perti.
Inyiak Canduang waktu itu duduk dalam front Islam bersama anggota
majelis dari Masyumi, NU, PSSI dan Perti. Tokoh yang terkemuka dalam
fraksi Islam di konstituante itu adalah H. Muhammad Natsir, Ketua Umum
PPI Masjumi.
Ada dua kali pemungutan suara pada pemilihan umum tahun 1955 tersebut.
Pertama, 29 September memilih anggota DPR (Parlemen RI) dan yang Kedua,
15 Desember tahun yang sama untuk memilih anggota Majelis Konstituante
(Majelis Pembuat Undang-Undang Dasar pengganti UUDS).