Suatu
saat, saya pernah mendengarkan
sebuah obrolan ringan tentang fenomena
yang menarik tentang pengarang-pengarang
Minangkabau. Mereka mencoba
membagi dan melihatnya dalam beberapa bagian. Mengingat juga bahwa
pembagian ini,
dengan cara lain, sering dibicarakan dalam beberapa
tulisan, lebih-lebih yang membicarakan tentang pengarang karya sastra
Indonesia yang berasal dari Minangkabau. Kehadiran
dan pengaruh mereka terlihat jelas dalam sastra Indonesia. Hal ini
disebabkan, mereka yang ‘menguasai’ Balai Pustaka dan karya-karya
mereka banyak yang diterbitkan di sana. Demikian juga halnya dengan
kedekatan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu dan kemudian bahasa
Indonesia. Mereka dengan mudah ‘menemukan’ frasa atau kalimat yang
sangat indah dan penuh mewakili untuk mengekspresikan sesuatu. Demikian
juga dengan sejumlah tradisi ritual dan seremonial yang, tak dapat
dihindarkan, mempengaruhi kompetensi dan ingatan akan bahasa dan cara
bertutur mereka. Apa
yang saya dengar ketika itu adalah bahwa pengarang Minangkabau memiliki
kecenderungan untuk mengikatkan dirinya pada rantau dan kampung. Rantau
menjadi
sebuah wilayah atau ranah yang dianggap mendewasakan anak-anak
lelaki, baik secara psikologis maupun materi. Dan sebagian besar
pengarang yang berasal dari Minangkabau memang besar di kota-kota atau
tempat di luar Minangkabau. Meski, sebagian juga masih bertahan tetap
di dalam ranah Minangkabau, dan melakukan perantauan bukan dalam arti
geografis dan fisikal. Untuk
kasus yang pertama, zaman Balai Pustaka sudah menunjukkan contohnya.
Sementara pada kasus yang kedua, sejumlah nama seperti AA Navis (alm),
Wisran Hadi, Gus tf, Yusrizal KW, Harris Efendi Thahar, Ode Barta
Ananda (alm), dapat diajukan. Mereka masing-masing memberikan sebuah
fakta yang patut diperhatikan dan mungkin dapat dilihat jejaknya dalam
karya-karya mereka. Memang
tak ada jaminan bahwa karya yang dihasilkan oleh perantau akan lebih
baik daripada orang-orang tetap tinggal di daerah. Hal ini telah
dibuktikan dengan keberhasilan karya-karya Navis, Wisran Hadi, atau Gus
tf yang mampu menjadi fenomena dan bahkan mampu memenangi berbagai
penghargaan berkelas regional. Dengan demikian, kemungkinan capaian
estetik tak ada sangkut pautnya dengan keberadaan geografis pengarang. Namun
demikian, ada satu hal terlintas dalam pembicaraan semacam ini, apakah
penting membicarakan wilayah dalam membicarakan karya-karya sastra?
Seperti juga kenapa dalam sebagian karya-karya
sastra dituliskan kolofon tempat dan waktu di bagian akhirnya? Apakah
ia pertanda akan sebuah jejak atas nama tempat dan waktu? Mungkin
sebagian pembaca karya sastra memperhatikan kolofon yang ada di akhir
sebuah tulisan, entah itu puisi, cerpen, atau novel. Dapat saja dari
sana pembaca mendapatkan sebuah informasi, entah untuk tujuan apa. Atau
juga kadang hanya membacanya selintas dan kemudian menyudahi bacaannya.Melalui
penanda yang sering dilewati ini, saya mendapatkan sebuah ide untuk
menuliskan sesuatu setelah membaca antologi Raudal Tanjung Banua, Pulau Cinta di Peta Buta
(Jendela Press, 2003). Tentu saja, pembicaraan ini, awalnya, berangkat
dari cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi tersebut. Antologi
yang menghimpun 18 cerpen ini diawali dan diakhiri dengan dua buah
cerpen, masing-masing “Elegi Kantor Pos” dan “Pulau Cinta di Peta
Buta”, yang ditulis dalam sebuah perjalanan di atas kapal Lambelu,
Samudra Indonesia, Agustus 2000. Cerpen-cerpen lainnya ditulis di
tempat tinggalnya, yang sekaligus dijadikan tempat berproses kreatif
pribadi dan bersama dalam hal kepenulisan dan teater, Rumahlebah
Yogyakarta (masing-masing untuk cerpen “Lengking Pilu Terompet Waktu”,
“Seekor Kambing Mati Tergantung”, “O Bintang Kemana Bulan...”, “Jalan
ke Bukit sudah Berubah”, “Lembah yang Riang dan Kemilau Mata Air”.
Selebihnya hanya dituliskan kolofon Yogyakarta, bisa dimana saja di
bagian Yogyakarta, yaitu cerpen “Purnama di Serambi”, Bis Berhenti di
Kampung Lengang”, Truk Berderak di Waktu Malam”, “Pertemuan di
Jakarta”, “Nyonya Helena da Costa”, “Metamorfosa Cicak di Atas Peta”.
Sisanya, seperti cerpen pembuka dan penutup, ditulis di perjalanan atau
tempat lain, Yogyakarta-Solo (untuk cerpen “Rendesvous”),
Lombok-Yogyakarta (cerpen “Tanah Harapan”), di atas selat Bali (pada
“Penyeberangan”), dan Denpasar (cerpen “Dongeng Pulau Dewata”).
Sementara terdapat hanya satu cerpen, “Sungguh Kematian Begitu Indah”,
yang tak berkolofon.