Dr.
M. Djamil Datuk Rangkayo Tuo seorang pejuang kemerdekaan Republik
Indonesia di Sumatra Barat. Beliau adalah mantan Ketua Komite Nasional
Indonesia (KNI)
Daerah, mantan Residen Sumatra Barat, dan mantan
Gubernur Muda Sumatra Tengah
pada tahun-tahun awal kemerdekaan.
Dalam mengenang tokoh pejuang ini, tak dapat tidak, haruslah
kita melihat kembali potret dari suasana daerah kita setelah lonceng
kemerdekaan berdentang pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai ke pemulihan
kedaulatan R.I. pada tahun 1949.
Sebetulnya, peristiwa
jatuhnya bom Atom di Kota Nagasaki dan Hiroshima (11 dan 14 Agustus
1945) sudah banyak juga diketahui
oleh umum di daerah kita. Bahwa pada
akhirnya Perang Dunia II itu akan dimenangkan oleh Sekutu, nyatanya
memang benar. Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang bertekuk lutut kepada
Sekutu.
Tiga hari setelah itu, Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia telah
memproklamirkan kemerdekaan RI ke seluruh dunia. Berita proklamasi
tersebut telah sampai juga ke daerah kita Sumatra Barat yang direkam
oleh pemuda-pemuda kita yang bekerja di kantor PTT di Padang dan
Bukittinggi.
Suatu rapat rahasia di Padang dilangsungkan pada tanggal 18 Agustus
1945 dipimpin oleh Ismail Lengah yang dilanjutkan kemudian tanggal 25
Agustus 1945 dengan terbentuknya BPPI (Balai Penerangan Pemuda
Indonesia) yang diketuai langsung oleh Ismail Lengah. Seminggu setelah
itu, persisnya tanggal 31 Agustus, terbentuk pula Komite Nasional
Indonesia Daerah Sumatra Barat yang diketuai oleh M. Sjafei, di
Kayutanam, yang sebelumnya sebagai Ketua Tyoo Sangi In seluruh Sumatra.
Sesuai dengan bunyi teks Proklamasi RI tentang pemindahan kekuasaan
dari Jepang ke tangan Republik Indonesia, maka anggota KNI Sumatra
Barat menoleh kepada tokoh-tokoh yang senior di antara mereka. Yang
senior itu adalah Engku Mohammad Sjafei yang sudah berusia mendekati
lima puluh. Yang lainnya adalah Dr. Moh. Djamil. Keduanya dari Kayu
Tanam dengan perbedaan usia yang beberapa tahun. Dr. M. Djamil lahir
pada tahun 1898, sedangkan engku Sjafei lahir pada tahun 1896.
Ringkasan lain tentang Mengenang seorang Pejuang Gubernur “Lipat”