Bung
Annas Lubuk
adalah teman saya sejak muda,
seorang tokoh
wartawan dan
seorang pejuang pers yang gigih, teguh
dengan prinsip, konsekuen dengan
pendirian. Ia adalah seorang pesuruh yang setia dari masyarakatnya.
Kalau dia sudah menetapkan pendiriannya atau mengambil suatu keputusan,
pantang baginya akan surut atau mungkin lagi untuk ditawar-tawar. Saya
tahu betul wataknya, sebab sejak 45 tahun yang lalu
kami mulai
mencempungkan diri ke dunia kewartawanan, dunia jurnalistik.
Kami sering bersama-sama mencari berita. Saya masih ingat kami berdua
menemui Bapak Arditoawigeno, Kepala Jawatan Transmigrasi waktu itu
karena ada masalah transmigrasi di Tongar, Pasaman. Saya masih ingat
kami naik sepeda berboncengan. Sampai di depan Kantor P dan K lama ban
sepeda kami kempis. Karena menambalnya lama, maka kami gagal bertemu
dengan Pak Arditoawigeno. Pada umumnya ketika itu wartawan Padang hanya
pakai sepeda. Seingat saya satu-satunya wartawan yang punya Vespa
adalah wartawan Haluan yang terkenal dengan kode "Z.Z.Nang." Siapa dia?
Itulah rekan kita yang namanya Zainal Zen almarhum, yang dulunya pernah
mengelola objek wisata pantai Carolina, Bunguih.
Saya
bukanlah wartawan Haluan. Saya adalah wartawan Harian Penerangan yang
berkantor di Sungai Bong. Pimpinan Redaksinya adalah Yahya Jalil,
wakilnya almarhum Zakaria Yamin.
Saya banyak berguru kepada wartawan senior Bapak S.Alaudin alias Codot.
Meskipun Bung Annas Lubuk dalam berpolitik menganut paham sosialis
seperti Pak Rosihan Anwar, namun Annas juga suka dan dekat dengan
orang-orang Masjumi seperti Pak Sarif Said, Wakil Ketua Masjumi
Sumatera Tengah dan Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD) kota
Padang, Residen dp. Kantor Gubernur Sumatera Tengah H.Darwis Datuk
Tumanggung yang juga seorang tokoh Masjumi.
Ringkasan lain tentang H. Annas Lubuk Dalam Kenangan