Masyarakat
Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit akibat
radikalisme agama. Di awal abad ke-19, demikian
catatan sejarah,
dekadensi moral masyarakat Minang sudah lampu merah. Golongan ulama
kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, membasmi bid''ah dan
khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan persuasif melalui
dakwah dan pengajian. Namun, kemudian muncullah seorang yang radikal
dan militan di antara mereka: ia bersama pengikutnya memilih jalan
kekerasan dengan pedang dan darah. Akibatnya, pertumpahan darah antara
sesama orang Minangkabau tak terhindarkan, yang menorehkan lembaran
hitam
dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi ulama yang radikal itu
kalau bukan Tuanku
nan Renceh.
Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang Paderi. Dialah panglima
Paderi yang paling militan dan ditakuti. Sosoknya tidak sejelas namanya
yang sudah begitu sering disebut dalam buku-buku sejarah. Tak banyak
data historis mengenai dirinya. Hanya ada catatan-catatan fragmentris
yang terserak di sana-sini. Tulisan ini mencoba merekonstruksi sosok
Tuanku Nan Renceh berdasarkan berbagai catatan tersebut, baik yang
berasal
dari sumber asing (Belanda) maupun dari sumber pribumi sendiri.
Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang, Luhak Agam. Kurang
jelas kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam paruh kedua tahun
1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa mudanya. Namun, sedikit
banyak dapat direkonstruksi melalui satu sumber pribumi, yaitu Surat Keterangan Syekh Jalaluddin
(SKSJ) karangan Fakih Saghir, salah seorang ulama Paderi dari golongan
moderat. (Lihat transliterasi SKSJ oleh E. Ulrich Kratz dan Adriyetti
Amir: Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin Karangan Fakih Saghir. Kuala Lumpur: DBP, 2002).
Ringkasan lain tentang Tuanku Nan Renceh: Radikalisme Agama Dan Lembaran Hitam Sejarah Minangkabau